counter

Kapal Inka Mina 30 GT bocor, karam di Pelabuhan Sadeng

Kapal Inka Mina 30 GT bocor, karam di Pelabuhan Sadeng

Ilustrasi. Sebanyak 13 unit kapal Inka Mina bantuan dari Kemenkokesra saat di serahkan secara simbolis kepada nelayan Kota Gorontalo di Tempat Pelelangan Ikan kota Gorontalo, Minggu (20/1). Dengan bantuan ini pemerintah berharap nelayan Provinsi Gorontalo dapat meningkatkan hasil tangkapan ikan dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri. (ANTARA/Adiwinata Solihin)

Hingga saat ini, bangkai kapal masih di lokasi semula."
Gunung Kidul (ANTARA News) - Kapal Inka Mina berukuran 30 GT karam di Pelabuhan Sadeng Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, diduga akibat kebocoran pada bagian lambung.

Kasat Polairud Polres Gunung Kidul AKP Iriyanto di Gubung Kidul, Selasa, mengatakan pada Senin (12/1) sebagian besar bangkai kapal sudah terendam air laut.

"Kondisi demikian jika terus didiamkan dampaknya bisa meluas. Hantaman ombak sepanjang hari semakin memperparah kerusakan," kata Iriyanto.

Ia mengatakan dari informasi kerusakan kapal sebenarnya sudah terjadi sejak tiga minggu yang lalu. Pihaknya juga sudah melakukan komunikasi dengan petugas Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) DIY yang berada di Sadeng. Namun sampai sekarang belum dievakuasi.

"Hingga saat ini, bangkai kapal masih di lokasi semula," katanya.

Iriyanto berharap dinas terkait segera mengambil langkah, agar kapal segera diangkat sehingga tidak mengganggu lingkungan sekitar.

Kapal tersebut terombang-ambing ombak dan menyentuh kapal yang lain sehingga merusak kapal yang berada di samping kapal naas tersebut, termasuk dua kapal patroli milik kepolisian.

"Kapal kami berbahan fiber kalau kesenggol terus-terusan bisa rusak. Belum lagi kalau sewaktu-waktu kami patroli susah keluar," katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Gunung Kidul Agus Priyanto mengatakan kapal tersebut rusak akibat menghantam tebing sehingga pada bagian lambung bocor. Lalu ditarik kapal lain dan disandarkan.

"Namun karena terus dihantam ombak, kapal tersebut sekarang karam," katanya.

Ia mengatakan kapal seharga lebih dari Rp1 milar ini dikelola oleh kelompok usaha bersama (KUBE), maka secara otomatis mereka dibebani tanggung jawab, agar bangkai kapal tidak mengganggu lingkungan sekitar.

"Kalau anggaran memungkinkan, pemerintah daerah siap membantu. Sedangkan kami untuk mengambil alih jelas tidak bisa karena tidak ada kewenangan," katanya.

Pewarta: Sutarmi
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2015

Korban kapal karam terombang-ambing di laut 3 hari

Komentar