Jakarta (ANTARA) - Epilepsi merupakan gangguan neurologis yang dapat dialami siapa saja, tanpa memandang usia atau latar belakang.

Meskipun gejalanya berupa kejang berulang sering terlihat jelas, penyebab di balik epilepsi bisa sangat beragam dan tidak selalu mudah diketahui. Beberapa kasus epilepsi muncul akibat cedera fisik atau gangguan kesehatan tertentu, sementara yang lain bisa terjadi tanpa penyebab yang jelas.

Memahami berbagai faktor yang dapat menjadi penyebab epilepsi penting untuk meningkatkan kesadaran dan membantu proses pencegahan. Dengan mengetahui penyebabnya, masyarakat dapat lebih waspada dan mendukung individu yang hidup dengan kondisi ini agar mendapatkan perawatan yang tepat.

Menurut data Kementerian Kesehatan, epidemiologi epilepsi di Indonesia masih terbatas. Estimasi jumlah penderita epilepsi di Indonesia mencapai 1,5 juta orang, dengan prevalensi sekitar 0,5-0,6% dari populasi. Angka ini menunjukkan bahwa epilepsi bukanlah kondisi yang jarang terjadi, sehingga penting bagi masyarakat untuk memahami hal-hal terkait epilepsi.

Baca juga: Stress selama kehamilan berkaitan dengan risiko epilepsi pada anak

Berbagai penyebab epilepsi

Penyebab epilepsi berbeda-beda pada setiap orang. Beberapa orang mengalami epilepsi karena faktor yang jelas, seperti cedera otak atau riwayat keluarga, sementara sebagian lainnya tidak memiliki penyebab yang dapat diidentifikasi. Berikut adalah beberapa penyebab umum epilepsi:

1. Infeksi pada otak

Infeksi merupakan salah satu penyebab utama epilepsi di seluruh dunia. Infeksi seperti meningitis, ensefalitis, atau neurocysticercosis (infeksi parasit pada otak) dapat merusak jaringan otak dan memicu kejang berulang.

2. Epilepsi autoimun

Gangguan pada sistem imun tubuh dapat memicu epilepsi. Kondisi ini dikenal sebagai epilepsi autoimun, di mana sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan otak yang sehat, menyebabkan peradangan dan kejang.

3. Faktor genetik

Beberapa jenis epilepsi bisa diwariskan dalam keluarga. Ada juga kasus di mana perubahan genetik yang baru terjadi (mutasi spontan) menyebabkan epilepsi, meskipun tidak ada riwayat keluarga yang mengalaminya.

4. Gangguan metabolik

Masalah dalam proses metabolisme tubuh, seperti gangguan enzim yang memproses makanan atau menghasilkan energi, dapat menyebabkan epilepsi. Gangguan ini biasanya terdeteksi sejak masa bayi atau anak-anak.

5. Kelainan struktur otak

Kelainan pada struktur otak dapat meningkatkan risiko kejang. Kelainan ini bisa berupa cacat bawaan (sejak lahir) atau berkembang akibat cedera atau stroke. Kondisi ini biasanya dapat dideteksi melalui pencitraan otak seperti MRI atau CT scan.

Baca juga: Mengenal Hari Epilepsi Sedunia yang diperingati setiap 26 Maret

Penyebab umum epilepsi berdasarkan kelompok usia

Penyebab epilepsi bisa berbeda tergantung pada usia seseorang. Berikut beberapa penyebab yang umum ditemukan di tiap kelompok usia:

1. Bayi baru lahir

  • Kelainan bawaan pada otak
  • Kekurangan oksigen saat lahir
  • Gangguan metabolisme sejak lahir
  • Perdarahan di otak
  • Penggunaan obat-obatan tertentu oleh ibu selama kehamilan

2. Anak-anak dan remaja

  • Kejang demam akibat suhu tubuh tinggi (febrile seizures)
  • Infeksi otak seperti meningitis atau ensefalitis
  • Tumor otak atau kelainan genetik bawaan

3. Dewasa muda dan paruh baya

  • Cedera kepala akibat kecelakaan atau trauma
  • Penyakit neurologis progresif
  • Faktor genetik atau kondisi bawaan seperti down syndrom atau tuberous sclerosis

4. Lansia

  • Stroke, yang menyebabkan kerusakan pada jaringan otak
  • Penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer
  • Cedera kepala akibat jatuh atau kecelakaan

Baca juga: Stres selama kehamilan berkaitan dengan risiko epilepsi pada anak

Baca juga: Epilepsi katamenial pengaruhnya pada kehamilan dan kesuburan

Pewarta: Allisa Luthfia
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.