Jakarta (ANTARA) - Dalam dunia kerja, tidak semua kesepakatan formal dituangkan dalam bentuk kontrak tertulis yang memiliki kekuatan hukum. Terkadang, ada perjanjian yang hanya berdasar pada rasa saling percaya dan integritas masing-masing pihak. Jenis perjanjian informal seperti ini dikenal dengan istilah 'gentle agreement'.
Gentle agreement adalah perjanjian atau transaksi informal yang sering kali tidak tertulis dan tidak mengikat secara hukum. Kesepakatan ini hanya bergantung pada integritas serta rasa tanggung jawab pihak-pihak yang terlibat untuk benar-benar mematuhi ketentuan yang disepakati. Biasanya, bentuk perjanjian semacam ini lebih kasual dan sering dibuat secara lisan.
Dalam dunia kerja, perjanjian semacam ini dapat terjadi di berbagai situasi, seperti antarperusahaan, rekan bisnis, atau bahkan antara karyawan dengan manajemen perusahaan. Meskipun tidak memiliki kekuatan hukum yang mengikat, gentlemen's agreement tetap memiliki peranan penting dalam menjaga hubungan profesional.
Apa itu gentle agreement?
Secara sederhana, gentle agreement atau gentlemen's agreement adalah perjanjian/transaksi yang tidak didukung oleh kontrak tertulis yang sah secara hukum. Perjanjian ini biasanya dibuat secara lisan dan lebih mengandalkan etika serta rasa saling percaya. Menurut Adam Hayes, Ph.D., CFA, seorang Sosiolog Ekonomi dan Asisten Profesor Sosiologi dan Antropologi di Universitas Ibrani Yerusalem, perjanjian ini hanya didukung oleh integritas pihak yang terlibat untuk mematuhi ketentuannya.
Contoh dari gentle agreement dapat dilihat dalam kesepakatan lisan antara dua perusahaan untuk tidak saling merekrut karyawan satu sama lain. Walaupun tidak ada dokumen resmi yang mengikat, kedua pihak berkomitmen untuk menaati kesepakatan tersebut. Namun, jika ada pihak yang melanggar, tidak ada jalur hukum yang dapat ditempuh untuk menuntut ganti rugi.
Baca juga: Hard skill dan soft skill: Pengertian dan perbedaannya di dunia kerja
Keuntungan dan kerugian gentle agreement
Keuntungan dari gentlemen's agreement adalah fleksibilitas dan kemudahan dalam pembuatannya. Karena tidak perlu melalui proses hukum yang rumit, perjanjian semacam ini dapat menghemat waktu dan biaya. Di sisi lain, gentle agreement dapat memperkuat hubungan bisnis dengan mengandalkan kepercayaan dan etika profesional.
Namun, terdapat pula kerugian dari perjanjian ini. Karena tidak mengikat secara hukum, risiko terjadinya pelanggaran lebih besar. Jika salah satu pihak tidak menepati janji, tidak ada sanksi yang dapat diterapkan secara hukum. Hal ini dapat merusak kepercayaan dan merugikan pihak yang dirugikan.
Dampak gentle agreement dalam dunia kerja
Meskipun bersifat informal, pelanggaran terhadap gentlemen's agreement dapat berdampak negatif dalam dunia kerja. Reputasi buruk akibat ingkar janji dapat merusak hubungan bisnis jangka panjang. Selain itu, dalam kondisi tertentu, gentlemen's agreement dapat disalahgunakan untuk praktik-praktik anti-persaingan, seperti penetapan harga atau pembagian wilayah pasar yang melanggar hukum.
Gentlemen's agreement atau gentle agreement adalah perjanjian informal yang bergantung pada integritas dan kepercayaan pihak-pihak yang terlibat. Dalam dunia kerja, meskipun tidak memiliki kekuatan hukum yang kuat, perjanjian ini dapat memengaruhi dinamika bisnis secara signifikan. Oleh karena itu, penting untuk mempertimbangkan risiko dan manfaatnya sebelum membuat perjanjian semacam ini.
Baca juga: Bursa kerja berbasis AI digelar di Heilongjiang, China timur lautt
Baca juga: UICI-BSI kerja sama Deposito Wakaf untuk beasiswa pendidikan
Pewarta: Raihan Fadilah
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.