Kelam di lumbung terang

Kelam di lumbung terang

Ilustrasi (ANTARA/Nyoman Budhiana)

Tangan Wawan (41) meraba-raba dinding samping pintu masuk rummahnya, mencari sesuatu dalam gelap.

Jarum jam masih menunjukkan pukul 13.15 WIB, tapi cuaca yang mendung membuat rumahnya yang terbuat dari pelepah bambu menjadi suram.

"Ah ini dia," ujar lelaki tiga anak itu setengah berteriak. Dengan cekatan, dia pun memantik api dan menyalakan sumbu lampu minyak itu.

"Byar" seketika ruangan pun temaram. Lampu itu satu-satunya alat penerangan di rumah itu. Tak hanya rumahnya saja, tiga rumah di samping rumahnya juga begitu.

"Sejak saya lahir seperti ini. Listrik belum masuk," tambah Wawan.

Wawan merupakan salah satu penduduk Dusun Majapahit, Desa Nanggerang, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Untuk menuju ke rumahnya tidak mudah, dari Ibu Kota Kecamatan Cililin naik kendaraan melintasi wilayah pergunungan.

Jalan yang dilalui pun tidak mudah, terjal, berbatu dan licin. Kalau tak hati-hati dan paham medan, alamat celaka.

Tak ada papan penunjuk nama dusun. Dusun itu seakan tenggelam di bawah pohon pinus di sekelilingnya.

Nun di sudut ruangan, istrinya Iin (37), sibuk meniup kayu di perapian. Iin menanak nasi, yang akan disantap siang itu.

"Anak-anak ada yang sedang sekolah, ada yang ngangon sapi," ucap Iin.

Sebagian besar penduduk di dusun itu berprofesi sebagai petani. Tapi, Wawan juga nyambi ngojek.

"Kalau cuma bertani, hanya cukup untuk makan. Anak-anak masih sekolah," tutur Iin, lirih.

Tak ingin larut dalam gundah, Iin melanjutkan pekerjaannya di dapur. Dengan cahaya tungku dan temaram lampu minyak di pojok ruangan.



Infrastruktur Buruk

Kepala Dusun Karya Mukti, Yayat Syaputra (40), mengaku juga banyak warga desanya yang tidak tersentuh listrik.

"Dari 1.260 KK, yang tersambung listrik sekitar 250 keluarga," ungkap Yayat.

Yayat menjelaskan listrik di wilayahnya kerap mati lampu, karena jika ada hujan deras maka listrik di wilayah itu mati.

"Warga susah beraktivitas di malam hari," ucapnya.

Ia juga mengeluhkan minimnya perhatian pemerintah daerah di dusun itu. Terutama untuk infrastruktur jalan dan pendidikan.

Sebagian besar jalan di dusun itu masih jalan setapak. Begitu juga dalam bidang pendidikan. Setidaknya siswa di dusun menempuh perjalanan lima kilometer dengan berjalan kaki ke sekolah.

Dusun itu termasuk wilayah sembilan kecamatan di Bandung Barat yang belum tersentuh listrik PLN. Bak ayam yang mati di lumbung padi, begitulah kondisi masyarakat di Kabupaten Bandung Barat.

Sembilan kecamatan di wilayah Bandung Barat itu yakni Cililin, Cikalong Wetan, Rongga, Sindangkerta, Saguling, Gunung Halu, Cipongkor, Cipeundeuy, dan Cipatat.

Meski terdapat dua Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yakni Saguling (700 Mega Watt) dan Cirata (1.008 Mega Watt) yang beroperasi di wilayah itu, bukan berarti seluruh daerah di Kabupaten Bandung Barat terang-benderang.

"Padahal, listrik itu diproduksi dari sumber daya alam kami," ujar Camat Cililin A Zaini Dahlan, saat penyerahan 1.800 lampu dari Energizer di Cililin, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Senin (19/1).

Dalam waktu dekat juga akan dibangun dua pembangkit lainnya yakni Saguling Mini (rencana 47 Mega Watt) dan Cisokan (rencana 1.260 Mega Watt).

"Listrik yang dihasilkan pembangkit di Bandung Barat ini untuk menerangi Jawa-Bali."

Kondisi geografis yang berada di pegunungan membuat biaya instalasi mahal. Zaini mensinyalir kelamnya sebagian kampung di kawasan itu disebabkan hal itu.

"Tapi mereka juga warga negara Indonesia, mereka juga berhak menikmati listrik," cetus Zaini.

Sebelumnya, Zaini pernah mengeluhkan hal tersebut pada pemerintah kabupaten, namun hingga saat ini belum ditindaklanjuti.

"Provinsi Jawa Barat punya program Jabar Caang atau Jabar Terang, tapi belum menyentuh wilayah itu," lanjut Zaini.

Manajer PLN Cimahi yang juga mengurusi pemasangan instalasi di Kabupaten Bandung Barat, Nuryasfin mengatakan listrik yang dihasilkan wilayah tersebut tidak bisa langsung digunakan di desa itu.

"Tegangannya tinggi, tidak bisa digunakan. Listrik yang dihasilkan PLTA itu untuk Jawa dan Bali," tutur Nuryasfin.

Listrik dari PLTA masuk ke jaringan interkoneksi Jawa Bali, baru kemudian masuk ke beberapa gardu induk di setiap wilayah.

"Peran pemerintah daerah sangat diperlukan agar setiap desa di kabupaten itu bisa menikmati listrik."

Perwakilan dari lembaga swadaya masyarakat "One Million Lights", Sierra Fan mengatakan masyarakat di pedesaan masih menggunakan lampu minyak.

Padahal, lampu minyak bertanggung jawab terhadap 1,5 juta jiwa yang melayang karena kasus kebakaran setiap tahunnya di dunia Sebanyak 62 persen diantaranya adalah anak-anak.

"Lampu minyak biaya operasionalnya mahal dan bahan bakarnya sulit didapat," tukas Sierra.

Disamping itu, berdasarkan data Organisasi Kesehatan Perserikatan Bangsa-bangsa (WHO) menyebutkan lampu minyak mengeluarkan lebih dari 100 kilogram emisi karbon setiap tahunnya.

Solusi dari permasalahan itu, lanjut Sierra, adalah lampu LED jinjing tenaga matahari. Dengan demikian masyarakat bisa menikmati penerangan dengan aman.

Oleh Indriani Tang
Editor: Desy Saputra
COPYRIGHT © ANTARA 2015

PLN Babel siagakan pasokan listik selama Nataru

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar