Langkah pertama yang perlu diambil investor adalah menjaga ketenangan dan menghindari keputusan yang tergesa-gesa

Jakarta (ANTARA) - Peneliti ekonomi Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf R Manilet menyarankan para investor mengalihkan investasi ke saham perusahaan-perusahaan, yang berketahanan domestik kuat di tengah volatilitas pasar modal di tanah air.

"Dalam kondisi seperti ini, investor disarankan untuk mengalihkan perhatian pada perusahaan-perusahaan yang memiliki ketahanan domestik kuat atau yang tidak terlalu bergantung pada perdagangan internasional," kata Yusuf saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Selasa.

Hal itu dikarenakan kebijakan tarif impor Amerika Serikat (AS) berpotensi mengganggu ekspor dan dinamika perdagangan global yang berdampak langsung pada kinerja perusahaan Indonesia yang berorientasi ekspor.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa pagi bergerak turun mengikuti pelemahan bursa saham global terimbas kebijakan tarif impor Amerika Serikat (AS).

IHSG dibuka melemah 596,33 poin atau 9,16 persen ke posisi 5.914,28. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 92,61 poin atau 11,25 persen ke posisi 651,90.

Merespons kondisi itu, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan pembekuan sementara perdagangan (trading halt) sistem perdagangan pada pukul 09.00 hingga 09.30 waktu Jakarta Automated Trading System (JATS).

Pembekuan perdagangan seiring terjadinya penurunan IHSG, yang mencapai lebih dari 8 persen.

Dalam menghadapi volatilitas IHSG tersebut, Yusuf menuturkan strategi investor dan pasar perlu difokuskan pada sejumlah langkah penting agar dapat menghadapi kondisi yang penuh ketidakpastian ini secara lebih efektif.

Selain beralih ke perusahaan yang berketahanan domestik kuat, Yusuf mengatakan langkah pertama yang perlu diambil investor adalah menjaga ketenangan dan menghindari keputusan yang tergesa-gesa, karena kepanikan justru berisiko memperburuk situasi serta menimbulkan kerugian yang tidak perlu.

Selain itu, lanjut dia, penting bagi investor untuk secara aktif memantau arah kebijakan Pemerintah Indonesia, termasuk kemungkinan intervensi seperti pemberian subsidi maupun upaya menjalin perjanjian dagang baru dengan negara mitra, yang dapat membantu meredam dampak negatif dari kebijakan tarif tersebut.

Mengingat ekonomi global sudah diwarnai berbagai tantangan, investor juga perlu bersiap menghadapi periode volatilitas dan ketidakpastian dengan pendekatan yang lebih hati-hati, salah satunya melalui strategi diversifikasi portofolio untuk memitigasi risiko.

Baca juga: Respons terbaik saat terjadi trading halt dan rebound IHSG

Baca juga: Direktur BEI imbau perhatikan fundamental di tengah sentimen tarif AS

Baca juga: BEI hentikan sementara perdagangan seiring IHSG turun di atas 8 persen

Pewarta: Martha Herlinawati Simanjuntak
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.