60 peneliti internasional pelajari iklim global di Danau Towuti

Dari lapisan sampai 10 meter saja diketahui usia tertuanya 60.000 tahun. Jika kita bisa mengambil sampel lapisan sendimen hingga 300 meter tentu lebih banyak lagi yang bisa diketahui,"
Jakarta (ANTARA News) - Lebih 60 peneliti dan mahasiswa dari lima negara akan mempelajari iklim global jutaan tahun terakhir dengan merekonstruksi perubahan iklim tropis jangka panjang di Pasifik barat, melalui penelitian di Danau Towuti, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan.

"Pada 2007, penelitian sudah dilakukan untuk mengetahui sendimentasi danau. Penelitian kali ini akan mencoba mengebor hingga 300 meter inti sendimen untuk mengetahui usianya, sehingga dapat diketahui pula kapan sebenarnya Danau Towuti terbentuk," kata geolog dari Brown University James Russell dalam konferensi pers terkait The Towuti Drilling Project di Jakarta, Jumat.

Sendimen yang berada di dasar danau terbesar dari kompleks Danau Purba Malili tersebut, menurut dia, memiliki lapisan seperti buku yang merekam perubahan iklim global dari masa lampau.

Bahkan, ia menyebut rekaman iklim global yang berasal dari sendimen di Danau Towuti merupakan yang terpanjang di Asia Tenggara mengingat lapisan sendimen yang telah terbentuk begitu tebal.

"Danau ini unik, termasuk dengan organisme yang hidup di dalamnya. Dengan mempelajari biota seperti siput dan udang yang hidup di sana kemungkinan dapat mengetahui kapan organisme tersebut sampai di danau," ujar dia.

Ketua tim peneliti dari Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB Satria Bijaksana mengatakan dari hasil penelitian sebelumnya pada 2007-2013 diketahui bahwa dari sendimen sedalam 10 meter di dasar Danau Towuti berusia 60.000 tahun.

"Dari lapisan sampai 10 meter saja diketahui usia tertuanya 60.000 tahun. Jika kita bisa mengambil sampel lapisan sendimen hingga 300 meter tentu lebih banyak lagi yang bisa diketahui," ujar dia.

Proyek penelitian yang akan dimulai pada Mei--Juli 2015 ini telah memegang izin dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) pada Desember 2014. Banyak institusi dan pihak yang mendukung dan terlibat dalam penelitian ini termasuk Bupati Luwu Timur Andi Hatta Marakarma, PT Vale Indonesia Tbk, Program Pengeboran Kontinental Internasional (the International Continental Drilling Program/ICDP), hingga National Science Foundation (NSF).

Presiden Direktur PT Vale Indonesia Tbk Nico Kanter mengatakan dukungan terhadap proyek penelitian ini sebagai bentuk komitmen meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan dan pelestarian alam di Indonesia, sebagai bagian dari kaerah praktik pertambangan yang baik.

"Dukungan kami penting dalam membantu mempertahankan ekosistem Towuti secara berkelanjutan dan melindungi rantai makanan di danau yang sarat dengan keanekaragaman hayati yang tinggi," ujar dia.

PT Vale Indonesia Tbk mendukung dalam bentuk logistik yang diperlukan tim peneliti dan memastikan proyek penelitian tersebut berjalan lancar dan tepat waktu. Jarak tempuh Danau Towuti sendiri hanya sekitar 30 menit dari base camp perusahan tambang ini.

Beberapa peneliti akan terlibat dalam The Towuti Drilling Project berasal dari Brown University (Amerika Serikat/AS), Institut Teknologi Bandung, Universitas Sam Ratulangi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Universitas Hasanuddin, Universitas Haluoleo, Bern Universitu (Swiss), LacCore (AS), Koeln University (Jerman), Geneva University (Swiss), GFZ (Jerman), Museum Naturkunde Berlin (Jerman), Rhode Island University (AS), Windsor University (Kanada), dan UBC (Kanada).

Pewarta: Virna P
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2015

LIPI : Perlu keamanan data komprehensif untuk cegah kebocoran data

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar