Washington (ANTARA) - Ribuan demonstran pada Sabtu (19/4) melakukan aksi turun ke jalan di berbagai kota di seluruh Amerika Serikat (AS) sebagai "Hari Aksi Nasional" untuk menentang kebijakan Presiden AS Donald Trump dan ancaman terhadap demokrasi yang dirasakan.

Digelar pada peringatan 250 tahun pecahnya Perang Revolusi AS, aksi unjuk rasa tersebut meliputi serangkaian pawai sampai ke pusat kota Manhattan hingga demonstrasi di luar Gedung Putih di Washington DC yang menunjukkan kemiripan antara seruan akan kebebasan pada masa lampau dan tuntutan masa kini untuk akuntabilitas eksekutif.

Di New York City, orang-orang berunjuk rasa di luar gedung perpustakaan utama di kota tersebut sambil membawa poster-poster yang ditujukan kepada presiden AS, bertuliskan slogan-slogan seperti "Tidak Ada Raja di Amerika" dan "Tolak Tirani". Di Chicago, para demonstran yang meneriakkan "Lindungi demokrasi kita" berpawai melewati Balai Kota, sedangkan di San Francisco, para pengunjuk rasa membentuk spanduk manusia bertuliskan "Pemakzulan dan Pemberhentian" di Ocean Beach.

Para pengunjuk rasa membawa poster-poster yang mengecam deportasi para imigran, pemecatan massal di dalam departemen federal, serta pemangkasan dana kantor Jaminan Sosial. Banyak juga demonstran yang menyuarakan dukungan untuk hak transgender dan kebijakan iklim yang lebih kuat.

"Kita berada dalam situasi berbahaya yang belum pernah terjadi sebelumnya di AS," kata Raymond Lotta, seorang ekonom politik sekaligus penulis.

Pemerintahan Trump "bergerak cepat untuk mengonsolidasikan kekuasaan, untuk melaksanakan agendanya yang mengerikan, menangkap para imigran, mengobarkan perang terhadap universitas, perang terhadap sains. Mereka menghancurkan supremasi hukum," katanya.

"Trump melakukan hal-hal ilegal, dan dia harus berhenti," kata demonstran lain yang hanya menyebut dirinya sebagai George. Dia memegang poster bertuliskan "Deportasi Trump" untuk mengekspresikan kemarahannya.

Demonstran berpartisipasi dalam unjuk rasa dan pawai untuk memprotes kebijakan pemerintahan Donald Trump di Kota New York, Amerika Serikat, pada 19 April 2025. Ribuan pengunjuk rasa pada Sabtu turun ke jalan di berbagai kota di seluruh Amerika Serikat dalam apa yang digambarkan oleh para demonstran sebagai bagian dari "Hari Aksi Nasional" terhadap kebijakan Presiden Donald Trump dan ancaman yang dianggapnya terhadap demokrasi. (ANTARA/Xinhua/Liu Yanan)

Chris, demonstran lain yang hanya menyebutkan nama depannya, menyebut perang dagang saat ini sebagai hal yang "tidak perlu,"

"Pemberlakuan tarif merugikan ekonomi kita. Terutama, merugikan ekonomi dunia. Hal ini menyebabkan banyak gangguan di seluruh dunia," ucapnya menambahkan.


"Kita sudah melihat tanda-tanda awal resesi," kata Chris, yang memegang poster bertuliskan "Tarif Sama Dengan Resesi".

Sementara itu, beberapa kelompok lebih berfokus pada pelayanan masyarakat, mengorganisasikan pengumpulan makanan, memberikan pengajaran, dan bekerja secara sukarela di tempat penampungan setempat.

Para analis politik mengatakan aksi unjuk rasa pada Sabtu tersebut merupakan mobilisasi besar kedua terhadap pemerintahan Trump pada April, menyusul demonstrasi sebelumnya pada 5 April, serta mencerminkan semakin dalamnya rasa kecewa kalangan akar rumput AS dengan apa yang dilihat oleh mereka sebagai terkikisnya sistem pengawasan dan keseimbangan (checks and balances).


Pewarta: Xinhua
Editor: Indra Arief Pribadi
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.