OECD desak reformasi struktural untuk dorong pertumbuhan ekonomi

OECD desak reformasi struktural untuk dorong pertumbuhan ekonomi

Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD). (FOTO. ANTARA)

Jika reformasi benar-benar diterapkan, ekonomi global akan memiliki pertumbuhan dua persen lebih tinggi."
Istanbul (ANTARA News) - Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) pada Senin mendesak negara-negara berkembang dan maju melaksanakan agenda reformasi struktural yang komprehensif untuk memulihkan pertumbuhan ekonomi yang sehat karena dunia menghadapi tantangan pelambatan ekonomi.

"Reformasi ambisius dapat membuat pertumbuhan yang kuat," kata OECD dalam laporan tahunannya berjudul "2015, Going for Growth", lapor Xinhua.

Laporan itu dirilis menjelang pertemuan para menteri keuangan dan gubernur bank sentral G20 yang dijadwalkan dimulai pada Senin petang.

Laporan, yang diluncurkan oleh Sekretaris Jenderal OECD Angel Gurria dan Wakil Perdana Menteri Turki Ali Babacan, mengidentifikasi prioritas reformasi struktural untuk meningkatkan pendapatan riil setiap negara OECD dan Brazil, Tiongkok, India, Indonesia, Rusia dan Afrika Selatan.

"Sebuah agenda reformasi yang ambisius dapat membantu meningkatkan pekerjaan, produktivitas dan mendukung permintaan," kata Gurria, menambahkan bahwa reformasi struktural, dikombinasikan dengan kebijakan fiskal dan moneter yang efektif, akan menjadi trilogi penting untuk meningkatkan pertumbuhan.

Pada 2015, G20 akan fokus pada upaya memastikan pertumbuhan yang inklusif dan kuat melalui tindakan kolektif, kata Babacan.

"Jika reformasi benar-benar diterapkan, ekonomi global akan memiliki pertumbuhan dua persen lebih tinggi," kata dia.

Laporan OECD mengatakan bahwa sejak 2013, laju reformasi kebijakan telah melambat di sebagian besar negara maju. Negara berkembang, di sisi lain, mempercepat laju reformasi.

Lemahnya permintaan, kelonggaran anggaran yang terbatas dan pengangguran yang tinggi telah digambarkan sebagai tantangan utama yang banyak pemerintah-pemerintah sedang hadapi.

(T.A026)

Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2015

Negara maju akui RI lebih hebat dalam hal kepercayaan investasi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar