Jakarta (ANTARA) - Indonesian Business Council (IBC) menyatakan batalnya investasi perusahaan asal Korea Selatan, LG dari sebagian proyek konsorsium baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV), Grand Package di Indonesia, bukan karena dinamika yang terjadi di Tanah Air, melainkan karena faktor pasar global.
Ketua Dewan Pengawas IBC Arsjad Rasjid ditemui di Jakarta, Jumat menjelaskan hal tersebut karena saat ini pasar kendaraan listrik dunia tengah dikuasai oleh perusahaan otomotif asal China, BYD, sehingga LG yang menyuplai baterai untuk kendaraan listrik buatan negara yang sama yakni Hyundai harus bersaing secara global.
"Jadi belum tentu itu karena Indonesia," katanya.
Baca juga: Menperin pastikan mundurnya LG tak pengaruhi pengembangan ekosistem EV
Menurutnya, rencana LG membangun fasilitas pembuatan baterai kendaraan listrik di Tanah Air bertujuan untuk menyuplainya secara global, namun hal ini belum sesuai dengan kondisi pasar.
"Faktanya adalah itu, jadi bukan dihadapi oleh Indonesia, tapi dihadapi oleh dunia," kata dia pula.
Sebelumnya, konsorsium Korea Selatan yang dipimpin LG memutuskan untuk menarik proyek senilai sekitar 11 triliun won (Rp130,7 triliun) untuk membangun rantai pasok baterai kendaraan listrik (EV) di Indonesia.
Konsorsium tersebut, yang meliputi LG Energy Solution, LG Chem, LX International Corp, dan mitra lainnya, telah bekerja sama dengan pemerintah Indonesia dan sejumlah perusahaan milik negara untuk membangun "rantai nilai menyeluruh" untuk baterai EV.
Pewarta: Ahmad Muzdaffar Fauzan
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.