Jakarta (ANTARA) - Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin menyarankan pemerintah untuk memberi perhatian lebih kepada pasar modal demi efisiensi sektor keuangan.

“Di berbagai negara di dunia, kalau ingin ekonomi itu bergairah, pasar modal harus dikembangkan, karena ini menjadi persaingan sektor perbankan,” kata Wijayanto dalam diskusi virtual bertajuk “Diskusi 100 Hari Trump: Tsunami Geopolitik dan Ekonomi bagi Indonesia” di Jakarta, Jumat.

Dia berpendapat pasar modal yang kuat dapat menekan suku bunga perbankan karena terdapat alternatif sumber pembiayaan. Terlebih, sumber permodalan dari pasar modal dinilai cocok untuk jangka panjang, dibanding perbankan yang permodalannya terbilang terbatas.

Baca juga: BEI ungkap 11 perusahaan beraset besar antre IPO di pasar modal RI

Wijayanto pun menyoroti kinerja perbankan yang dianggap belum efisien. Hal itu tecermin, misalnya, dari Net Interest Margin (NIM) yang masih lebar.

“Kredit mahal dan sekarang sulit didapat, karena orang lebih suka menaruh dana dalam bentuk Surat Berharga Negara (SBN) yang bunganya lebih tinggi dengan risiko yang rendah,” ujarnya.

Maka dari itu, ekonom Paramadina ini mendorong pemerintah untuk membuat kebijakan yang berfokus pada efisiensi sektor keuangan, terutama di tengah misi pemerintah melakukan deregulasi sebagai respons terhadap kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump.

Sebagai informasi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat likuiditas industri perbankan juga masih ample dengan rasio liquidity coverage ratio (LCR) sebesar 210,14 persen.

Pewarta: Imamatul Silfia
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.