counter

Kelompok HAM: dunia ikut bersalah atas tahun terburuk Suriah

Kelompok HAM: dunia ikut bersalah atas tahun terburuk Suriah

Gedung Intelinjen Angkatan Udara pemerintah Udara yang hancur sebagian setelah diserang pemberontak terlihat di Aleppo, Suriah, Kamis (5/3). Pemberontak menyerang gedung keamanan pemerintah Suriah di Aleppo Rabu lalu, mengebom dan melancarkan serangan darat, menurut sumber dari kedua pihak dan sebuah kelompok pemantau. (REUTERS/George Ourfalian)

Beirut (ANTARA News) - Masyarakat dunia ikut bertanggung jawab atas situasi terburuk yang dialami warga sipil dalam konflik Suriah dan telah gagal untuk mengatasi bencana kemanusiaan yang berkembang, kata kelompok hak asasi manusia, Kamis.

Dalam sebuah laporan yang berjudul "Gagal (di) Suriah", 21 organisasi hak asasi manusia mengkritik negara-negara kekuatan dunia karena tidak melaksanakan serangkaian resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa terkait krisis itu.

Tiga resolusi yang diadopsi pada tahun 2014 mendesak pelaku bersenjata di Suriah untuk melindungi pihak-pihak yang tidak terlibat pertempuran dan bertujuan untuk mengamankan akses yang lebih besar ke bantuan kemanusiaan bagi jutaan warga Suriah.

"Namun, resolusi, dan harapan yang mereka berikan, telah lama tidak berfungsi bagi warga sipil Suriah. Mereka telah diabaikan atau dirusak oleh pihak-pihak yang terlibat konflik, negara-negara anggota Perserikatan Bangsa Bangsa lainnya dan bahkan oleh anggota (Dewan Keamanan) itu sendiri," menurut laporan itu, seperti dikutip AFP.

Tahun lalu adalah tahun paling mematikan dalam konflik, dengan sedikitnya 76 ribu orang tewas dari total lebih dari 210 ribu sejak dimulainya konflik pada 15 Maret 2011.

Sekalipun telah memasuki tahun kelima, tidak tampak tanda-tanda konflik akan berakhir.

"Ini adalah pengkhianatan pada cita-cita kita, karena kita tidak seharusnya membiarkan orang menderita dan tewas pada tahun 2015," kata Jan Egeland, sekretaris jenderal Dewan Pengungsi Norwegia, yang memberikan kontribusi untuk laporan itu.

Organisasi itu mengkritik pemberontak dan pasukan rezim yang tanpa pandang bulu menarget infrastruktur sipil, termasuk sekolah-sekolah dan fasilitas kesehatan, dan membatasi akses ke warga sipil yang membutuhkan.

Laporan itu, yang ditandatangani Oxfam, Komite Penyelamatan Internasional dan "Save the Children", mengatakan 4,8 juta warga Suriah tinggal di daerah yang sudah disebut oleh PBB sebagai "sulit untuk dijangkau" pengiriman bantuan - hampir dua kali lebih sulit dibandingkan pada tahun 2013.

Tapi saat kebutuhan meningkat, dana tidak serta merta mengikutinya. Hanya 57 persen dari uang yang diperlukan untuk membantu warga sipil dan pengungsi Suriah yang diberikan pada tahun 2014, turun dari 71 persen pada tahun 2013.

Egeland mengatakan di tahun-tahun mendatang, PBB akan membutuhkan sekitar 8,4 miliar dolar sekitar 7,9 miliar euro bantuan bagi warga sipil Suriah.

"Ini seperenam dari biaya Olimpiade Sochi 2013 - jadi bagaimana Rusia mampu mendanai Olimpiade Sochi, tetapi tidak mampu kontribusi yang cukup besar untuk operasi yang kekurangan dana ini," tanyanya.

Egeland mengatakan masyarakat internasional dapat "berjuang mengatasi dampak dari krisis selama dua generasi yang akan datang."

"Kita tidak memberikan harapan bagi jutaan anak muda Suriah," katanya. "Jadi apakah kita kemudian percaya bahwa mereka tidak akan mudah tertarik pada ekstremisme?"

Konflik Suriah dimulai dengan demonstrasi damai pro-demokrasi, tapi meningkat menjadi perang saudara berdarah.

Lebih dari 11,2 juta warga Suriah telah mengungsi dalam apa yang PBB sebut sebagai krisis pengungsi terburuk dalam 20 tahun terakhir.

(Uu.G003)

Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2015

Fauzi Baadilla berbagi pengalaman di pengungsian Suriah

Komentar