Bandung (ANTARA News) - Grup band independen "Tigapagi" memperkenalkan irama tradisional, seperti pentatonis Sunda dan keroncong melalui lagu-lagu karyanya.

"Sebetulnya, tak ada unsur kesengajaan yang artifisial dalam mengawinkan berbagai kebudayaan ke dalam musik," kata vokalis Tigapagi Sigit Agung Pramudita di Bandung, Sabtu.

Menurut dia hanya tentang bagaimana bermacam unsur kebudayaan menyatu sehingga melahirkan keberagaman musik yang bercitarasa lokal.

"Unsur pentatonik atau "da-mi-na-ti-la" dalam musik Tigapagi lahir dari kehidupan kami yang memang tumbuh dan dibesarkan di Tanah Pasundan, jadi kami familiar dengan hal yang berkaitan dengan Sunda," katanya.

Ia memaparkan para personil Tigapagi yang hidup dalam lingkup keluarga penggiat budaya Sunda lantas menjadikan musik Tigapagi kental dengan sentuhan irama tradisional tersebut.

"Mungkin kepiawaian bermain musik bisa merupakan warisan, nenek dan kakek kami adalah seniman Sunda," kata pria berusia 30 tahun tersebut.

Tigapagi yang beranggotakan Sigit Agung Pramudita (vokal, gitar akustik, bass) serta dua bersaudara Eko Sakti Oktavianto (Gitar akustik, piano, kecapi) dan Prima Dian Febrianto (gitar akustik) pernah mendapat penghargaan Rookie of the Years 2014 alias pendatang baru terbaik versi majalah Rolling Stone Indonesia.

Memulai debut dalam industri musik jalur minor pada Agustus 2004 lalu, grup musik asal Kota Bandung itu telah merilis dua album, yakni mini album berjudul Half Awake (2006) dan full album Roekmana's Repertoire (2013).

Terkhusus pada album kedua, musik Tigapagi kental dengan irama pentatonik.

"Dalam album kedua itu kami hanya menggunakan kecapi, sisanya menggunakan alat musik diatonis. Berbagai macam tangga nada pentatoni seperti madenda, pelog, dan sorog juga bisa dihasilkan tak hanya melalui alat musik tradisional," katanya.

Selain itu ia juga menjelaskan, alasan Tigapagi mengambil suasana di era pertengahan tahun 1960-an lantaran ingin mengingatkan kembali peristiwa tersebut kepada para generasi muda.

Editor: Tasrief Tarmizi
Copyright © ANTARA 2015