IPB siapkan 200 hektare pengembangan kemiri sunan

IPB siapkan 200 hektare pengembangan kemiri sunan

ilustrasi - pekerja membersihkan rumput di antara benih kemiri "Sunan" . (FOTO ANTARA/Aguk Sudarmojo)

Dramaga, Bogor (ANTARA News) - Institut Pertanian Bogor (IPB) sudah menyiapkan lahan seluas 200 hektare milik IPB untuk dijadikan pilot project pengembangan tanaman kemiri sunan sebagai bahan bioenergi untuk solusi energi masa depan dalam pengadaan biodiesel nasional.

"IPB sudah menyiapkan 200 hektare untuk menanam pohon kemiri sunan di Kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW)," kata Rektor IPB Prof Herry Suhardiyanto di Dramaga, Bogor, Kamis.

Ia mengatakan sudah sejak lama menunggu perhatian pemerintah untuk mengembangkan sumber energi alternatif dengan Bahan Bakar Nabati (BBN). Tetapi baru sekarang pemerintah memberikan sinyal kuat kepada IPB untuk terus mengembangkan sumber energi alternatif.

"Kami sudah banyak melakukan penelitian sumber energi alternatif. Karena melihat saat ini Indonesia sudah mulai krisis sumber daya energi," katanya.

Di kawasan hutan pendidikan gunung walet nanti penelitian pembibitan pohon kemiri sunan akan dilakukan agar kualitas yang dihasilkan bisa maksimal. Jadi ketika bibit kemiri sunan lahir di IPB sudah dipastikan menjadi bibit unggul.

"IPB sangat mendukung program pemerintah dalam pengembangan Bahan Bakar Nabati (BBN) dalam substitusi penggunan minyak adalah green biodisel," katanya.

Karena Indonesia mempunyai potensi besar untuk memproduksi BBN dari sumber biomasa seperti kelapa sawit, kemiri sunan, nyamplung, tebu, nira dan lainnya.

"Pengembangan BBN bukan hanya untuk mengurangi krisis energi tetap bisa memberikan multi manfaat untuk menguatkan ketahan ekonomi nasional khususnya di pedesaan," katanya.

Ia mengatakan kemiri sunan dapat ditanam dilahan kritis non produktif dan submarginal. Kemiri sunan juga menghasil energi/ha lebih tinggi, usia mencapai 100 tahun dan bisa menerima tanaman tumpangsari. Bahkan daun kemiri sunan bisa menyuburkan tanah dan relatif lebih banyak menyerpa CO2.

Pewarta:
Editor: Aditia Maruli Radja
COPYRIGHT © ANTARA 2015

Komentar