counter

Australia tetap kondusif bagi Muslim

Australia tetap kondusif bagi Muslim

ilustralia Bilateral Indonesia-Australia. (FOTO.ANTARA News)

"(Kondisinya) Cukup kondusif antara warga negara Indonesia dengan warga Australia di sini. Tapi kita tetap harus waspada dan mendorong agar warga Indonesia aktif berinteraksi dengan masyarakat setempat,"
Perth (ANTARA News) - Australia tetap kondusif bagi Muslim, terutama warga Indonesia, terlepas dari insiden pelecehan rasial yang menimpa pasangan Muslim di sebuah kereta di Sydney, Australia, beberapa hari lalu.

"(Kondisinya) Cukup kondusif antara warga negara Indonesia dengan warga Australia di sini. Tapi kita tetap harus waspada dan mendorong agar warga Indonesia aktif berinteraksi dengan masyarakat setempat," kata Konsul Jenderal RI untuk Australia Barat Ade Padmo Sarwono di Perth, Sabtu petang.

Ia melanjutkan, "Dengan membuka diri, maka warga Indonesia bisa membuka pemahaman dengan penduduk lokal Australia".

Warga Indonesia di Australia Barat diperkirakan mencapai 10.000 orang, dengan 7.000 di antaranya terdata dan ikut Pemilu Presiden tahun 2014.

"(Kita) Perlu waspada tapi tidak perlu terlalu khawatir," ujar Ade Padmo menegaskan.

Insiden serangan rasial terhadap pasangan Muslim kelahiran Pakistan, Hafeez Ahmed Bhatti dan istrinya yang bernama Khalida, menjadi perbincangan hangat di media setelah Stacey Eden mencoba menghentikan serangan verbal seorang perempuan kulit putih terhadap Khalida.

Stacey yang menyaksikan serangan verbal rasial selama 10 menit itu memilih untuk menghentikannya dengan mengecam penyerang, "Bila Anda tidak bisa berkata yang baik, lebih baik Anda diam".

Kejadian itu direkam oleh Stacey dan diunggah ke Facebook.

Laman News.com.au mewartakan Hafeez berencana untuk menggugat secara hukum pelaku yang bertindak rasis itu, karena tindakan tersebut membuat istrinya trauma untuk bepergian sendiri menggunakan transportasi umum.

"Serangan verbal terhadap perempuan Muslim yang mengenakan hijab bukanlah hal baru di Australia. Bermula ketika serangan 9/11 dan frekuensinya naik-turun. Tapi setelah isu ISIS dan berita tentang beberapa warga Australia bergabung dengan ISIS, tampaknya serangan verbal bernada rasis kembali meningkat," kata Prof Samina Yasmeen, Direktur Pusat Kajian Negara dan Masyarakat Muslim di Universitas Australia Barat (UWA).

Perempuan kelahiran Pakistan yang juga dosen Ilmu Politik dan Hubungan Internasional UWA itu melanjutkan, "Orang yang pengetahuannya sangat terbatas tentang keberagaman Muslim cenderung menyamakan semua Muslim dengan aksi-aksi militan, dan inilah yang terlihat nyata dalam video".

Namun, aksi Stacey Eden yang mencoba untuk menghentikan aksi rasisme, menurut Samina, menunjukkan bahwa golongan muda Australia lebih bisa menerima perbedaan terkait SARA dan akan menolong bila memang diperlukan.

"(Kalangan) Muslim patut mengetahui bahwa tidak semua non-Muslim membenci mereka, dan ini bisa menjadi salah satu pilar untuk membangun saling pengertian yang lebih baik di tingkat lokal dan global," katanya.

Pewarta:
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2015

Komentar