counter

Tiga industri ini dapat manfaatkan penggunaan Big Data

Jakarta (ANTARA News) - Berbicara mengenai Big Data tidak melulu tentang teknologi yang ditawarkan untuk menyimpan dan menyajikan data, namun  pemanfaatan Big Data itu sendiri dinilai sangat penting.

Menurut Fajar Muharandy, Chief Solution Architect, kebanyakan orang masih terpaku dengan Big Data sebagai istilah di mana terdapat kumpulan himpunan data dalam jumlah sangat besar sukar ditangani dengan manajemen basis data biasa, sehingga membutuhkan suatu teknologi.

Lebih dari itu, Fajar mengatakan bahwa pemanfaatan Big Data sangat penting bagi perusahaan untuk meningkatkan layanan mereka.

"Teradata terpanggil untuk mengedukasi market, karena saat kami berbicara tentang Big Data, banyak orang yang belum paham mengenai Big Data," ujar Fajar di Jakarta, Selasa.

"Banyak orang hanya fokus dengan teknologi yang dapat mengelola data yang besar. Selain berbicara tentang teknologi, kita dapat mengetahui bagaimana pemanfaatan Big Data," sambung dia.

Fajar memberikan tiga contoh industri yang dapat memanfaatkan penggunaan Big Data.


Industri Penerbangan

Setiap perusahaan penerbangan mempunyai data masing-masing, namun, menurut Fajar, perusahaan penerbangan saat ini umumnya hanya menggunakan data pembelian tiket penumpang, seperti kota asal dan kota tujuan, serta pembelian tiket melalui situs resmi atau tidak.

Perusahaan penerbangan tidak melihat data di luar itu, data interaksi ketika calon penumpang berada di depan komputer untuk membeli tiket, misalnya.

"Airlines mungkin hanya melihat si Fajar terbang dari Jakarta-Jogja misalnya, tapi sebelum memutuskan itu sebenarnya dia ingin menuju Solo," ujar Fajar.

Menurut Fajar, penting bagi perusahaan penerbangan untuk melihat pola interaksi calon penumpangnya. Sebagai contoh, ketika penumpang mengetik Solo dalam situs penjualan tiket, kemudian menge-klik back dan mengetik Jogja, kota dengan bandara terdekat dari Solo, perusahaan patut mencurigai pola interaksi seperti ini.

Bisa jadi penumpang membeli tiket Jogja karena penerbangan Solo lebih terbatas atau lebih mahal.

Perusahaan penerbangan dapat memanfaatkan Big Data tersebut untuk kemudian memperbanyak jumlah penerbangan ke Solo atau memberikan harga promo atau bekerja sama dengan travel agent untuk memfasilitasi penumpang dari Jogja ke Solo.

"Kalau Airlines mengetahui data ini (Big Data aktivitas penumpang di website), mereka mungkin bisa mengambil keputusan yang lebih tepat, dengan membuat rute yang lebih atraktif karena mengetahui market yang potensial," kata Fajar.


Industri Perbankan

Pada saat nasabah melakukan transaksi melalui mesin atm, Bank mungkin hanya menyimpan data transaksi banking, seperti nominal penarikan uang. Di luar itu, Fajar mengatakan Bank dapat melihat data interaksi para nasabah di depan mesin atm.

Bank dapat mengetahui berapa lama waktu yang dibutuhkan nasabah untuk memasukkan pin dan menekan jumlah nominal penarikan uang. Lebih dari itu Bank juga dapat menganalisa kebiasaan seorang nasabah dalam menarik uang di atm.

"Kalau kita tahu kebiasaan seorang nasabah mengambil uang 500 ribu, kenapa tidak ketika nasabah memasukkan kartu, kemudaian memencet pin, langsung menawarkan pilihan 500ribu," kata Fajar.

Hal tersebut, menurut Fajar, dapat menjadi nilai tambah bagi Bank di mata para nasabah.

"Untuk meningkatkan layanan kepada nasabah, agar nasabah tetap setia dan menambah saldo rekeningnya," ujar dia.


Industri Otomotif

Penggunaan Big Data di industri otomotif, menurut Fajar dapat digunakan untuk menghindari fraud atau penipuan/kecurangan.

Di negara lain misalnya, Big Data dimanfaatkan untuk mendeteksi adanya fraud yang dilakukan dealer mobil untuk mengklaim spare parts mobil baru yang masih bergaransi.

Jika sebuah dealer mengklaim suatu spare parts dalam jumlah jauh lebih besar dibanding dealer lain di daerah yang sama, produsen mobil dapat mencurigai hal ini.

Cara yang paling sederhana untuk mendeteksi fraud, menurut Fajar, dapat dilakukan melalui data geografis.

"Kalau memang karena faktor cuaca atau jalan rusak mengeluhkan rem rusak dan aus, seharusnya keluhan tersebut tersebar, tapi ada dealer yang klaim parts yang lebih tinggi di banding dealer-dealer di daerah yang sama," kata dia.

Tiga industri tersebut memberikan contoh pemanfaatan Big Data melalui pengambilan data-data tipe baru.

"Big Data itu bukan semata-berbicara data dalam ukuran besar, Big Data itu muncul ketika orang mulai sadar bahwa ada data-data baru yang sebelumnya belum dianalisa," ujar Fajar.

Pewarta: Arindra Meodia
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2015

Kampanye Micro Targeting harus dibawah otoritas Partai

Komentar