Psikolog: bimbel berakar dari budaya instan

Psikolog: bimbel berakar dari budaya instan

Ilustrasi. Sejumlah peserta mengerjakan soal ujian Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) di Universitas Hasanuddin, Makassar, Sulsel, Selasa (17/6). Sebanyak 47.105 peserta mengikuti ujian SBMPTN di Makassar yang terdaftar di Panlok 80 UNM dan 82 Unhas dari jumlah total 664.509 peserta se-Indonesia. (ANTARA FOTO/Sahrul Manda Tikupadang)

Budaya instan inilah salah satu penyebab sulitnya menghapus korupsi di Indonesia. Sebab itu, untuk jangka panjang, dampaknya bisa mengerikan karena ini menyangkut generasi muda yang menjadi penerus bangsa."
Jakarta (ANTARA News) - Psikolog dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia (LPT UI), Suhati Kurniawati mengatakan, fenomena lembaga bimbingan belajar, yang semakin marak menjelang Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN), berakar dari budaya instan.

"Budaya yang sekarang adalah budaya instan, yang menginginkan hasil dengan segera. Saya melihat hal ini juga menjangkiti anak-anak, remaja serta anak-anak muda sekarang," ujar Suhati, yang akrab dipanggil Iin, di LPT UI, Jakarta, Jumat.

Begitu pula dengan fenomena bimbel, yang menurut Iin bisa dianggap anak sebagai jalur cepat menuju kesuksesan yang disimbolisasikan dengan masuknya mereka ke PTN favorit.

Akibatnya, dia melanjutkan, anak-anak tidak lagi menganggap serius pelajaran yang diterimanya di sekolah.

"Budaya instan inilah salah satu penyebab sulitnya menghapus korupsi di Indonesia. Sebab itu, untuk jangka panjang, dampaknya bisa mengerikan karena ini menyangkut generasi muda yang menjadi penerus bangsa," tuturnya.

Padahal, lanjut Iin, nilai yang tinggi saat seleksi PTN sama sekali tidak menjamin anak dapat mengikuti perkuliahan dengan baik di universitas, institut ataupun sekolah tinggi.

"Ada kasus-kasus anak tersendat saat kuliah karena memang mereka hanya dipersiapkan untuk matang dalam mengerjakan tes masuk," lanjut Iin.

Menurut dia, permasalahan tersebut bisa diatasi dengan memperbaiki sistem pendidikan, mulai dari kurikulum, buku-buku, guru-guru hingga metode pembelajaran.

"Kalau semua itu membaik, anak-anak tidak akan menggantungkan harapannya kepada lembaga bimbel," ujarnya.

Menjelang SBMPTN yang akan dilaksanakan pada 9 Juni 2015, beragam lembaga bimbingan belajar memang gencar menawarkan program "intensif" untuk siswa SMA/SMK yang baru melaksanakan UN dan para alumni.

Ada pun biaya yang ditawarkan cukup beragam. Beberapa lembaga bimbingan di wilayah Jakarta menawarkan harga mulai dari Rp1 juta hingga Rp50 juta per peserta.

Berbagai fasilitas juga disediakan, mulai dari kebebasan untuk berdiskusi dengan pengajar kapan saja, fasilitas penginapan, motivator, hingga janji memberikan pengembalian uang ("cash back") jika tidak lulus PTN yang diinginkan.

Salah satu lembaga bimbingan belajar di Jakarta, Quin, mengaku seluruh kelas yang dipersiapkan dalam rangka persiapan menuju SBMPTN dan jalur seleksi-seleksi lain sudah penuh sejak beberapa bulan lalu.

"Seluruh kursi di 10 cabang kami di kawasan Jabotabek, yang masing-masing bisa berkapasitas 50-100 orang, sudah penuh oleh para siswa yang mempersiapkan diri masuk ke perguruan tinggi negeri," kata staf bagian produksi Quin, Samsiah, di kantor pusat lembaga bimbel tersebut di kawasan Fatmawati, Jakarta.

Sementara ditemui di tempat terpisah, Kepala Cabang Lembaga Pendidikan KSM wilayah Salemba, Aida Fitriani mengamini bahwa para siswa SMA sederajat dan alumni masih antusias mengikuti bimbel sebagai persiapan mengikuti seleksi PTN.

"Antusiasme para siswa untuk mengikuti program intensif tahun 2015 cukup tinggi," kata Aida Fitriani.

Sebagai buktinya, ujar Aida, ratusan kursi yang disediakan lembaga tersebut terisi penuh oleh para siswa yang akan berjuang melewati UN, sejak program intensif dimulai pada 25 April 2015.

Pewarta: Michael Teguh Adiputra Siahaan
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2015

Penerimaan PPK di KPU Kota Cilegon sepi peminat

Komentar