counter

Sukabumi awasi peredaran rokok elektrik

Sukabumi awasi peredaran rokok elektrik

Ilustrasi-Rokok Elektrik (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi)

Hasil Pengujian yang dilakukan Organisasi Kesehatran Dunia/World Health Organization (WHO), bahwa asap yang dikeluarkan oleh rokok elektrik itu jumlah kandungan racunnya lebih besar dibandingkan rokok tembakau,"
Sukabumi (ANTARA News) - Dinas Kesehatan Kota Sukabumi, Jawa Barat mewaspadai semakin beredar luasnya rokok elektrik atau herbal, karena rokok jenis baru tanpa tembakau ini lebih berbahaya dari pada rokok tembakau.

"Hasil Pengujian yang dilakukan Organisasi Kesehatran Dunia/World Health Organization (WHO), bahwa asap yang dikeluarkan oleh rokok elektrik itu jumlah kandungan racunnya lebih besar dibandingkan rokok tembakau, atau bisa dikatakan rokok ini sangat membahayakan kesehatan bagi siapa saja yang menghisap asapnya," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Sukabumi, Ritanenny di Sukabumi, Sabtu.

Menurutnya, banyak pecandu rokok yang beralih menggunakan rokok elektrik dengan alasan ingin berhenti dari kecanduannya, padahal menggunakan rokok herbal ini lebih berbahaya karena selama ini belum diketahui secara persis kandungan yang ada dalam rokok jenis tersebut.

Tetapi, dari hasil pengawasannya rokok elektrik tersebut menggunakan cairan kimia yang mempunyai berbagai rasa yang berfungsi untuk menghasilkan asap.

Maka dari itu, pihaknya mengimbau masyarakat agar tidak membeli rokok elektrik maupun produk rokok lainnya, karena tidak membahayakan kesehatan si pengguna saja, tetapi juga orang di sekililingnya.

"Saat ini, Kota Sukabumi sudah mempunyai Perda Nomor 3/2014 tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang bertujuan untuk mengurangi jumlah perokok, bahkan sanksi yang ada di perda itu cukup berat jika terbukti ada orang yang merokok di lokasi KTR dengan ancaman penjara satu bulan atau denda Rp1 juta," tambahnya.

Rita mengatakan yang tidak kalah penting dari rokok elektrik, pihaknya juga mewaspadai rokok Sisha.

Pengawasan yang dilakukan terhadap rokok yang berasal dari negara Timur Tengah ini, karena pihaknya menilai pipet untuk menghisap asap dari dalam tabung tidak higienis, apalagi digunakan di secara umum seperti di cafe atau tempat nongkrong.

Tidak menutup kemungkinan jika digunakan bersama-sama bisa berpotensi menyebarkan penyakit. Karena setiap orang yang menggunakan rokok itu tidak mengetahui riwayat penyakit orang yang sebelumnya menggunakan Sisha itu," katanya.

Pewarta: Aditya Ramadhan
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2015

DPPKP Kota Cirebon sidak kesehatan daging kurban

Komentar