Puluhan biksu ambil air berkah di Umbul Jumprit jelang Waisak

Puluhan biksu ambil air berkah di Umbul Jumprit jelang Waisak

Para biksu mengambil air suci menggunakan kendi saat prosesi pengambilan air suci pada rangkaian perayaan Tri Suci Waisak tahun 2558 B.E/ 2014 di Umbul Jumprit, kawasan lereng Gunung Sindoro, Desa Tegalrejo, Ngadirejo, Temanggung, Jawa Tengah, Selasa (13/5).(ANTARA FOTO/Anis Efizudin)

Temanggung (ANTARA News) - Puluhan biksu mengambil air berkah di Umbul Jumprit, Desa Tegalrejo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, Minggu, dalam rangkaian perayaan Tri Suci Waisak 2559 BE/2015.

Ada delapan majelis yang mengikuti ritual pengambilan air berkah yakni Sangha Theravada, Tantrayana, Tridharma, Kasogatan, Mahayana, Mapanbumi, Madhatantri, dan Mahanikaya.

Sebelum perwakilan sangha mengambil air berkah menggunakan kendi, mereka melakukan puja bakti di altar yang ada di kompleks Umbul Jumprit.

Ketua Panitia Pengambilan Air Berkah Waisak 2015 Martinus Nata mengatakan persiapan pengambilan air berkah telah dimulai sejak 18 Mei dengan pembersihan dan pengecatan ulang area Umbul Jumprit.

Sementara pengisian air berkah Waisak ke 12.000 botol dilakukan pada 27 Mei 2015. Air berkah nantinya akan disemayamkan di Candi Mendut, Kabupaten Magelang.

"Hari ini kami melakukan sarana puja kepada Tri Ratna dengan alunan ayat-ayat suci yang dilanjutkan dengan membawa air berkah dari Umbul Jumprit ke Candi Mendut," katanya serta menambahkan air itu merupakan lambang kerendahan hati yang dapat memberikan kesejukan bagi kehidupan spiritual manusia.

Ketua Umum DPP Walubi S. Hartati Murdaya dalam sambutan tertulis yang disampaikan Bhante Pabhakaro mengatakan dari Candi Mendut air berkah akan dibawa menuju Candi Borobudur untuk sarana puja kepada para dewa dan bodhisattva.

Selanjutnya, sesuai dengan tradisi umat Buddha Indonesia sejak masa lalu, air berkah itu akan dibagikan kepada umat Buddha.

Umbul Jumprit telah lama menjadi tempat yang disucikan oleh umat Buddha, khususnya di Indonesia. Tradisi umat Buddha menggunakan air sebagai sarana peribadatan berawal pada zaman Sang Buddha Gautama, yang menggunakan air berkah untuk mengatasi wabah penyakit di kota Ratana.

"Sebagai hikmah dari peristiwa itu, maka umat Buddha menjadikan kejadian di sana sebagai contoh dan teladan, senantiasa menggunakan air berkah yang telah dijadikan sarana puja dengan pembacaan parita-parita suci, digunakan sebagai air berkah yang sakral, membawa kesejukan, kesembuhan, ketenteraman, dan keselamatan," katanya.

Pewarta:
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2015

Komentar