counter

Warga Pesisir Selatan gelar Malamang sambut Ramadhan

Warga Pesisir Selatan gelar Malamang sambut Ramadhan

Seorang ibu membakar lemang, yang terbuat dari beras ketan dan santan lalu dimasukkan ke dalam bambu, pada lomba malamang (membuat lemang) dalam Festival Sitti Nurbaya di Sumatera Barat yang berlangsung 3-11 Juni 2012.(FOTO ANTARA/Syafril Adriansyah)

Painan, Sumatera Barat (ANTARA News) - Warga Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, menggelar acara Malamang, memasak makanan yang dibuat dari campuran beras ketan dan santan yang dipanggang, untuk menyambut datangnya Bulan Suci Ramadhan 1436 Hijriyah.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pesisir Selatan Rusma Yul Anwar di Painan, Rabu, menuturkan warga di setiap nagari (desa adat) melakukan Malamang secara berkelompok atau sendiri-sendiri setelah Shalat Subuh atau sekitar pukul 5.30 WIB hingga sore hari satu hari menjelang 1 Ramadhan.

Malamang berkelompok biasanya digelar di dekat mushalla atau masjid yang ada di nagari sementara Malamang perorangan biasanya dilakukan di pekarangan rumah masing-masing.

Di Pesisir Selatan tradisi Malamang tidak hanya dilakukan menjelang Ramadhan, namun juga pada peringatan hari-hari besar Islam seperti Maulid Nabi Muhammad SAW, Hari Raya Idul Adha, Hari Raya Idul Fitri dan doa bersama untuk orang yang meninggal dunia.

Setelah lemang masak, warga mengundang para tamu dan warga lain untuk berkunjung dan berdoa bersama di rumah mereka.

"Malamang sudah merupakan keharusan setiap memasuki Bulan Ramadhan dan hari-hari besar Islam lainnya. Bagi kita yang tinggal di kampung, rasanya hina jika tidak melakukan ini, " kata Elli (60), warga setempat.

Menurut sejarah Minangkabau, tradisi Malamang berawal dari kebiasaan masyarakat Minangkabau pada masa Syekh Burhanuddin masih hidup.

Ketika itu Syekh Burhanuddin berjalan dari rumah ke rumah untuk mendatangi warga yang tengah memasak lemang untuk menyampaikan ajaran Islam.

Pewarta: Junisman
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2015

Tradisi malamang menyambut Idul Fitri di Minangkabau

Komentar