Seluruh rangkaian rantai pasok harus dikendalikan keamanannya, sehingga pada saat makan sudah bisa diminimalkan bahaya yang tidak kita inginkan

Jakarta (ANTARA) - Guru Besar Mikrobiologi Pangan Institut Pertanian Bogor (IPB) Ratih Dewanti Hariyadi mengatakan pentingnya memastikan keamanan di seluruh rantai pasok untuk mengatasi kasus-kasus keracunan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

"Seluruh rangkaian rantai pasok harus dikendalikan keamanannya, sehingga pada saat makan sudah bisa diminimalkan bahaya yang tidak kita inginkan," kata Ratih dalam siniar Badan Gizi Nasional (BGN) yang diikuti di Jakarta, Senin.

Ratih menjelaskan makanan yang disajikan dalam MBG, termasuk pangan siap saji. Untuk memastikan makanan aman, pemerintah dan seluruh pihak yang terlibat dalam MBG perlu mengendalikan keamanan mulai dari penanaman, transportasi, hingga distribusi.

"Harus dikendalikan di seluruh rantai pasok dari hulu ke hilir. Transportasi dan distribusi itu sumber-sumber pencemaran yang harus dikendalikan, belum lagi kalau berbicara bahan baku mungkin tidak cukup hanya di dapur pengolahan, tetapi juga di penanamannya bagaimana, transportasi bagaimana, pengolahannya bagaimana," ujar dia.

Baca juga: BGN investigasi temuan belatung pada MBG di SPPG Klamasen Sorong

Menurutnya, semua rangkaian dalam Program MBG harus memenuhi dan mematuhi pakem utama dalam pengendalian keamanan pangan yang telah tertera dalam manajemen keamanan pangan.

"Bisa dicapai dengan beberapa fondasi sistem manajemen keamanan pangan, mulai dari good agricultural practices di ladang, good farming practices untuk susu dan daging, good aquaculture practices (untuk produk-produk dari laut atau sungai), serta good distribution practices. Kalau di dapur ada good handling practices atau good manufacturing practices," paparnya.

Ia juga menegaskan sistem manajemen keamanan pangan sangat terkait dengan pemenuhan fasilitas, lokasi, dan bangunan dalam rangka menjalankan Program MBG. Selain itu pengawasan berbasis risiko juga perlu dilakukan.

Baca juga: Wakil Ketua MPR: Kasus keracunan momentum evaluasi kualitas MBG

"Harus ada pengawasan yang cukup baik berbasis risiko. Kita pilih mana yang paling berisiko yang harus kita kendalikan," ucapnya.

Berdasarkan data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), isu keracunan pangan tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di dunia. 1 dari 10 orang dunia mengaku pernah mengalami sakit akibat makanan.

Efek keracunan pangan tidak hanya penularan penyakit, tetapi juga memengaruhi perputaran ekonomi di suatu wilayah karena sangat berpengaruh pada produktivitas.

"Kalau seseorang sakit, dia harus membayar rumah sakit, membeli obat, belum lagi yang menunggu tidak bisa kerja, lalu dari segi produsen produknya harus ditarik sehingga biayanya besar, belum lagi kalau harus dimusnahkan. Beban keamanan pangan itu bisa sangat merugikan, tidak hanya dari segi kesehatan tetapi juga secara ekonomi," tutur Ratih.

Baca juga: PCO: Prosedur standar MBG di NTT ditingkatkan usai kasus keracunan

Pewarta: Lintang Budiyanti Prameswari
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.