Generasi Gigi hingga Wali, perjalanan pop religi Indonesia (3)

Oleh Alviansyah Pasaribu

Generasi Gigi hingga Wali, perjalanan pop religi Indonesia (3)

Vokalis band Wali Faank (kiri) dan gitaris Apoy (ANTARA FOTO/Fikri Yusuf)

Jakarta (ANTARA News) - Musik pop religi sudah diterima masyarakat Indonesia sejak 1970 lewat karya-karya Bimbo dan Nasidah Ria yang selalu dikumandangkan pada bulan Ramadhan hingga Lebaran.

Tiga bersaudara Samsudin "Sam" Hardjakusumah, Darmawan "Acil" Hardjakusumah, dan Jaka Purnama Hardjakusumah yang tergabung dalam Bimbo menjadi pionir musik pop religi karena menggabungkan unsur pop dengan syair syarat pesan ketuhanan dalam hamonisasi nada yang mudah dicerna telinga masyarakat Indonesia.

Berkolaborasi dengan Taufik Ismail, musisi dan penyair itu melahirkan tembang "Tuhan", "Sajadah Panjang," dan "Rindu Rasul" yang begitu mudah diingat dan dipelajari maknanya.

Cara Bimbo melagukan puisi dengan tatanan nada minor yang menyentuh membuat mereka lebih dikenal sebagai grup pop religi, padahal mereka juga memainkan musik Flamenco di beberapa lagu bertema lingkungan.

"Akhirnya, saya percaya kolaborasi antara pemusik dan penyair seperti Bimbo dan Taufik Ismail menghasilkan karya bermakna besar untuk perjalan musik religi Indonesia," kata Bens Leo pengamat musik Indonesia beberapa waktu lalu.

Bimbo tidak sendirian, mereka memiliki penerus yang membawa tongkat estafet pop religi dari masa ke masa, generasi ke genarasi, tanpa adanya batasan musik.

Pada 1980 muncul seniman-seniman yang kini namanya disebut sebagai musisi besar seperti Chrisye dan Ebiet G Ade.

Ebiet menyanyikan syair religi dan kemanusiaan diiringi musik folk gitar akustik sementara Chrisye melantunkan pop religi "Ketika Tangan dan Kaki Berkata" yang juga ditulis penyair Taufiq Ismail.

Selanjutnya, era 1990 kian jamak penyanyi pop yang ikut meramaikan musik religi seperti Ita Purnamasari, Trie Utami, Novia Kolopaking, Dwiki Darwaman, Neno Warisman, Puput Novel, dan Inka Christie.

Salah satu peninggalan generasi 1990 adalah tembang "Dengan Menyebut Nama Allah" yang dipopulerkan Novia Kolopaking.

Masuk ke tahun 2000 muncul solois pop religi asal Surakarta Haddad Alwi yang berhasil mencetak sejarah penjualan kaset terlaris di Indonesia lewat album Cinta Rasul pada 1999.

"Yang pasti sangat fenomenal adalah kemunculan Haddad Alwi dengan angka penjualan mencapai 2,5 juta kopi ketika berduet bersama Sulis di album Cinta Rasul," kata Bens Leo.

Namun sayang puncak kesuksesan komersial album tersebut tidak pernah terulang dan kian menurun sejalan dengan inovasi musik digital dan ring back tone (RBT).

Pada 2005 Aunur Rofiq Lil Firdaus atau Opick terjun ke dunia musik religi lewat album bertajuk "Istighfar" yang berkolaborasi dengan Almarhum Jeffry Al Buchori dalam lagu "Ya Robbana", dan Gito Rollies di lagu "Cukup Bagiku".

Kendati musik digital kian berkembang, Opick bisa mencetak penjualan album fisik Istighfar hingga ratusan ribu kopi serta menghasilkan 11 album sejak 2005 hingga sekarang.

Gigi hingga Wali
Lewat album "Raihlah Kemenangan" yang dirilis pada 2004 dan 2005, Gigi berhasil membawakan lagu-lagu religi dengan gaya rock yang melekat.

"Perdamaian perdamaian, perdamaian perdamaian. Banyak yang cinta damai tapi perang makin ramai," demikian syair berjudul Perdamaian milik Nasyidah Ria yang dipopulerkan kembali oleh band Gigi pada 2005.

Karakter musik Gigi dan warna suara Armand Maulana yang kuat membuat band ini gampang dikenali. Masyarakat pun penasaran dengan konsep musik yang dimainkannya ketika membawakan lagu religi.

"Gigi memunculkan satu album dengan karakter asli mereka yang rock tapi temanya religi. Lagu 'Perdamaian' misalnya, itu bukan ciptaan mereka, tapi berhasil dibawakan dengan baik dan meninggalkan kesan," kata Bens.

Gigi juga membuktikan bahwa musik merupakan bahasa universal karena tidak semua personelnya muslim namun mampu menyanyikan lagu religi nafas Islami.

"Gigi itu unik karena musisinya lintas agama, misalnya Dewa Budjana yang beragama Hindu. Dahulu, Idris Sardi juga pernah membantu pembuatan lagu Natal untuk Grace Simon," ujar Bens.

Berbeda dengan Gigi yang menggubah sejumlah lagu religi milik seniornya. Ungu dan Wali menjadi terkenal dengan lagu religi ciptaan sendiri.

Ungu mengeluarkan album dalam menyambut Ramadhan bertajuk "SurgaMu" pada September 2006 yang melejitkan lagu "Andai Ku Tahu".

Tahun berikutnya Ungu meluncurkan album religi "Para PencariMu" dengan judul lagu andalan yang sama. Lagu itu menjadi soundtrack sinetron Para Pencari Tuhan di televisi swasta.

Band Wali muncul sebagai grup pop kreatif dengan cara bernyanyi yang sedikit melayu pada 2008. Mereka sukses naik ke pasaran lewat album "Orang Bilang" pada 2008 dan "Cari Jodoh" setahun kemudian.

Grup asal Ciputat, Tangerang Selatan, Banten ini mengeluarkan album religi bertajuk "Ingat Sholawat" pada 2009 dengan lagu andalan "Tomat (Tobat Maksiat)" yang menjadi soundtrack sinetron Islam KTP.

Kehadiran Gigi, Wali dan Ungu meneruskan keberadaan Bimbo sebagai seniman pop religi kendati mereka tidak terus menerus di jalur musik pop religi namun eksistensi mereka layak diperhitungkan.

Selain itu, karya yang dihasilkannya mampu memberi warna baru yang variatif bagi penikmat musik pop religi.

Tantangan modernisasi
Dunia musik terus berkembang dari generasi piringan hitam, kaset pita, cakram kompak (CD), hingga masuk ke era musik digital yang membuat penjualan album fisik terus tergerus.

Pop religi dan semua jenis musik ditantang untuk terus kreatif dan berinovasi supaya mampu menembus pasar kendati angka penjualan fisik tidak menjanjikan.

Gigi, Ungu dan Wali mungkin bisa mengandalkan kekuatan fans mereka untuk menjadi konsumen setia karya yang dihasilkan. Mereka juga memiliki pemasukan dari pementasan yang diselenggarakan secara rutin dan berkala.

"Gigi selalu ditunggu penggemar karena tidak pernah berhenti berkarya. Mereka motor musisi rock yang sukses membawakan lagu religi," kata Bens.

Di sisi lain, seniman pendatang baru akan sulit untuk bersaing apalagi di dunia musik pop religi.

Namun itulah tantangan modernisasi bagi para pendatang baru di dunia musik, termasuk pop religi. Mereka bisa bergabung dengan kelompok musik lain untuk membuat album kompilasi dengan biaya yang lebih terjangkau.

"Sangat berisiko memproduksi satu album religi jika waktu menjualnya hanya satu bulan lebaran. Untuk itu lebih baik membuat album kompilasi yang terdiri dari sejumlah musisi mengisi masing-masing satu lagu," kata Bens.

Musik sebagai bahasa universal pun tidak pernah membatasi penggunaan alat musik modern guna memproduksi nada-nada dalam pop religi yang lebih inovatif.

"Alat-alat musik modern tidak akan mengubah ciri khas musik religi. Karena lagu religi mengutakan makna dalam syairnya, buka semata nada yang dimainkannya," kata Bens.

Keuntungan modernisasi lainnya adalah media sosial yang bisa digunakan sebagai alat promosi gratis karya musisi tidak bisa naik di media massa.

"Gunakan kanal YouTube, Facebook, Twitter untuk memperkenalkan musik-musik baru. Media sosial bisa menjadi sarana promosi tak berbayar," katanya.

Oleh Alviansyah Pasaribu
Editor: Aditia Maruli Radja
COPYRIGHT © ANTARA 2015

Melestarikan Tahar, alat musik tradisional Kalbar

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar