GoetheHaus putar film kisah pekerja migran Indonesia di Belanda

GoetheHaus putar film kisah pekerja migran Indonesia di Belanda

ilustrasi WSATCC live at Goethehaus Personil Band White Shoes and The Couples Company (WSATCC) memberikan salam penutup kepada penonton usai menggelar konser bertajuk "Live at Goethehaus" di Goethe Institute, Menteng, Jakarta Pusat.(ANTARA FOTO/Fabianus Riyan Adhitama)

Jakarta (ANTARA News) - Pemutaran film dan diskusi "Dispereet Niet: Pekerja Migran Indonesia di Belanda" digelar di GoetheHaus, Jakarta, Jumat malam.

Acara yang dihadiri ratusan pengunjung tersebut merupakan kerja sama antara Indonesian Migrant Workers Union (IMWU) Netherlands dengan dukungan Komnas Perempuan.

"Lewat film ini, kami ingin orang-orang melihat apa yang sebenarnya terjadi pada pekerja migran di sana, utamanya yang tak memiliki dokumen lengkap," kata Yasmin Soraya dari IMWU Nederlands dalam sambutannya di Jakarta, Jumat.

Film karya sutradara Irwan Ahmett itu mengisahkan tentang persoalan dan sisi lain pekerja asal Indonesia yang berada di Belanda. Film berdurasi 1 jam 6 menit ini, diinisiasi oleh pekerja asal Indonesia yang tinggal di Belanda.

Disperereert Niet sendiri Bahasa Indonesia memiliki arti jangan berputus asa. Sebuah paradox yang dipilih Irwan Ahmett dari semboyan JP Coen yang merupakan pahlawan bangsa Belanda tapi musuh Indonesia.

Irwan Ahmett, mengatakan, pembuatan film ini didasari oleh hal yang paling sederhana. Yakni menyampaikan persoalan dan masalah, mulai dari individual, komunitas hingga kemanusiaan.

Dalam film yang dibuat sekitar satu tahun itu, mengangkat persoalan masalah upah, jam kerja dan keamanan dari pelecehan seksual hingga keluar rumah, baik untuk keperluan pribadi maupun pekerjaan.

"Persoalan yang terjadi di Belanda adalah sebuah polemik yang berkaitan dengan konteks sejarah antara Indonesia dan Belanda. Saya di sini mencoba mengurai benang kusut dengan merefleksikan temuan-temuan dari kehidupan teman-teman pekerja migran di sana. Saya banyak main di simbol. Domestic worker di sana sudah jadi simbol budaya tapi tidak mendapat pengakuan sebagai profesi," kata Irwan.

Pewarta: Ida Nurcahyani
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2015

Komnas Perempuan ingatkan peran perempuan raih kemerdekaan

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar