Din: keterwakilan perempuan Muhammadiyah di `Aisyiyah

Din: keterwakilan perempuan Muhammadiyah di `Aisyiyah

Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsudin membacakan pidato di Universitas Muhammadiyah Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (3/8) malam. Din Syamsuddin membacakan pidato terakhir sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah pada Sidang Pleno I Muktamar ke 47. (ANTARA FOTO/Sahrul Manda Tikupadang)

Makassar (ANTARA News) - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin mengatakan keterwakilan perempuan di Muhammadiyah cukup tersalurkan lewat organisasi otonom Aisyiyah.

"Muhammadiyah menghormati kaum perempuan maka disediakan wadah Aisyiyah untuk bagi tugas. Bahwa kaum perempuan ini adalah di Aisyiyah memiliki maqomnya sendiri," kata Din di sela-sela Muktamar Muhammadiyah ke-47 di Makassar, Kamis.

Din mengatakan Muktamar Muhammadiyah sejatinya telah membuka keterwakilan perempuan di tahap awal pemilihan 13 formatur anggota Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Tetapi memang tidak ada calon yang masuk 13 besar formatur.

Terlebih, lanjut Din, pimpinan Aisyiyah secara "ex officio" masuk ke dalam struktur anggota Pimpinan Pusat Muhammadiyah sehingga keterwakilannya telah terjamin.

Sementara itu terkait keterwakilan Indonesia timur di PP Muhammadiyah, Din mengatakan sangat menginginkannya. Tetapi dia menyadari tidak dapat mengintervensi keinginan peserta muktamar yang menyalurkan suaranya untuk 13 formatur yang kini telah terpilih.

"Keterwakilan daerah ini saya ingin ada perwakilan tapi saya sendiri tidak dapat mengintervensi muktamar. Saya adalah Ketum PP Muhammadiyah dari Sumbawa dan ini tentu bentuk keterwakilan Indonesia timur. Biasa sajalah, daerah jangan kecewa," katanya.

Diberitakan, Din pada Kamis ini akan meninggalkan jabatannya sebagai Ketum PP Muhammadiyah lantaran pimpinan persyarikatan akan segera berganti seiring prosesi Muktamar Muhammadiyah yang segera menentukan kepengurusan yang baru.

Haedar Nashir merupakan calon kuat pengganti Din lantaran mengantongi suara terbanyak dari 13 formatur terpilih. Para formatur akan membahas lebih lanjut tentang maju tidaknya Haedar menjadi ketum.

Pewarta: Anom Prihantoro
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2015

MUI: Perkembangan Islam terkendala urusan politik

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar