Jakarta (ANTARA) - Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Timur (Jaktim) menggalakkan gerakan satu rumah memiliki satu alat pemadam api ringan (APAR) sebagai upaya pencegahan bahaya kebakaran.

"Kami terus mengajak masyarakat masing-masing rumah memiliki satu APAR. Kalau rumahnya gede, lebih dari satu APAR bisa jadi, kalau rumahnya cukup atau sedang cukup satu APAR. Sehingga semuanya bisa mencegah bahaya kebakaran," kata Wali Kota Jakarta Timur Munjirin usai apel deklarasi Gerakan Masyarakat Punya APAR (Gempar) tingkat kecamatan di Duren Sawit, Jakarta Timur, Senin.

Menurut dia, gerakan itu bukan sekadar imbauan, melainkan kebutuhan nyata untuk meminimalisir risiko kebakaran di wilayah padat penduduk, seperti Jakarta Timur.

"Gerakan itu adalah dari masyarakat itu sendiri. Tadi kita lihat banyak sekali masyarakat yang hadir dari seluruh lapisan. Inilah garda terdepan untuk mengajak setiap rumah memiliki satu APAR," ujar Munjirin.

Dia menjelaskan kebakaran besar hampir selalu berawal dari percikan kecil, baik dari kompor, korsleting listrik, maupun sumber lain.

Sayangnya, selama ini banyak warga masih mengandalkan cara tradisional untuk memadamkan api, seperti mencari air, kain basah, atau sumber air terdekat yang kadang sulit dijangkau.

"Kalau ada APAR, begitu ada percikan api, bisa langsung ditangani. Kebakaran besar tidak mungkin langsung besar, pasti dimulai dari kecil dulu. Dengan APAR, api kecil bisa segera dipadamkan sebelum meluas," jelas Munjirin.

Dia menuturkan gerakan tersebut merupakan tindak lanjut atas Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2025 yang diterbitkan oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.

Wali Kota Jakarta Timur Munjirin usai menggelar apel deklarasi gerakan masyarakat punya APAR (Gempar) di Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur, Senin (29/9/2025). (ANTARA/Siti Nurhaliza).

Baca juga: APAR dinilai efektif tekan kasus kebakaran di Kecamatan Pulogadung

Instruksi tersebut mewajibkan setiap rumah tangga di Jakarta agar memiliki APAR melalui program Gerakan Masyarakat Punya Alat Pemadam Api Ringan (Gempar).

Lebih lanjut, dia menyebutkan program itu tidak berhenti hanya di tingkat kota, melainkan hingga ke seluruh kecamatan.

"Setelah deklarasi tingkat kota, kita laksanakan di Pulogadung, dan sekarang di Duren Sawit. Ke depan, seluruh kecamatan di Jakarta Timur menerapkan hal yang sama,” ucap Munjirin.

Selain mendorong kepemilikan APAR, dia juga meminta agar seluruh elemen masyarakat, khususnya RT dan RW, memberikan edukasi tentang cara penggunaan dan perawatan alat tersebut sehingga dapat dimanfaatkan secara efektif saat dibutuhkan.

"Saya minta RT, RW, dan semua pihak memastikan warga tahu bagaimana menggunakan APAR dan merawatnya. Jangan sampai APAR ada, tapi ketika diperlukan tidak berfungsi," tutur Munjirin.

Dia pun berharap gerakan tersebut dapat menjadi budaya baru masyarakat dalam menjaga keselamatan lingkungan.

Deklarasi Gempar tingkat kecamatan yang digelar di Duren Sawit, Jakarta Timur, itu diikuti oleh ratusan peserta, mulai dari aparatur sipil negara (ASN) kecamatan hingga berbagai organisasi kemasyarakatan, seperti LMK, FKDM, PKK, dasawisma, hingga FORKABI.

Baca juga: Kesadaran masyarakat Jaktim untuk gunakan APAR semakin tinggi

Baca juga: Pemkot Jaktim imbau warga rutin rawat APAR agar tetap berfungsi

Pewarta: Siti Nurhaliza
Editor: Rr. Cornea Khairany
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.