Icip-icip calon menu "maksi" jemaah haji

Icip-icip calon menu "maksi" jemaah haji

Direktur Pelayanan Haji Luar Negeri Kementerian Agama Sri Ilham Lubis sedang mencicip makanan salah satu perusahaan katering untuk jamaah haji, di Makkah, Saudi Arabia, Minggu malam. (Risbiani Fardaniah)

Makkah (ANTARA News) - "Ini katanya rendang, tapi kok rasanya rendang bukan, semur juga bukan".

Itu komentar Direktur Pelayanan Haji Luar Negeri Kementerian Agama (Kemenag) Sri Ilham Lubis, setelah menyicipi sejumlah menu yang akan disajikan para perusahaan katering untuk jemaah haji di Makkah.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tahun ini Kemenag sebagai Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) melakukan terobosan untuk meningkatkan pelayanan yang lebih baik, dengan memberikan makan siang (maksi) gratis kepada jemaah haji sebanyak 15 kali selama berada di Makkah.

Meski ada tambahan pemberian makan, hal itu tidak mengurangi biaya hidup (living cost) yang diperoleh jamaah sebesar 1.500 riyal.

Untuk memastikan kualitas layanan dan mutu makanan itulah, semalam, Minggu sekitar pukul 21.00 Waktu Arab Saudi atau Senin pukul 01.00 WIB, seluruh perusahaan katering menyajikan contoh paket katering untuk jemaah sesuai permintaan Kemenag.

Pemerintah mengontrak 23 perusahaan katering skala menengah dan besar untuk menyediakan makan siang bagi jemaah. Perusahaan besar tersebut antara lain Muassasah Abu Jadail, Al-Hussam dan Al Ahmadi.

Semua perusahaan katering tersebut wajib memiliki juru masak dari Indonesia agar semua makanan bisa mendekati selera lidah orang Indonesia.

Kendati demikian, masih terjadi rasa yang tidak cocok seperti yang diungkapkan Sri Ilham Lubis tersebut ketika memeriksa rasa dan kualitas masakan yang disajikan para perusahaan katering itu.


Kendala

Ujang Suryana, yang bekerja menjadi juru masak pada Muassasah Zubaidah (Al-Zad) mengakui tidak mudah menemukan bahan baku dan bumbu masakan sesuai selera rasa Indonesia.

"Buat semur, misalnya, perlu biji pala. Harganya mahal sekitar 50 riyal sekilo dan susah," kata lelaki asal Cianjur yang sudah lima tahun bekerja di perusahaan katering tersebut.

Belum lagi masakan lainnya yang membutuhkan banyak rempah-rempah, seperti rendang daging kacang merah, ayam goreng kecap, dan daging lada hitam, yang membutuhkan banyak bumbu dapur khas Indonesia.

Hal senada dikemukakan Hadi Budiana Ramdani yang bekerja pada salah satu perusahaan katering terbesar di Makkah yaitu Syarikah Al-Hussam. Ia mengatakan banyak bumbu diimpor dari Indonesia, agar cita rasa masakan sesuai selera jemaah Indonesia.

Apalagi perusahaan katering tempatnya bekerja mendapat kontrak untuk menyediakan menu untuk hari Jumat yang antara lain ada semur daging yang membutuhkan banyak rempah seperti lada dan biji pala.

Mungkin biasanya rempah-rempahan tersebut ada dijual di sejumlah toko di Arab Saudi. Namun pada musim haji, kebutuhan menjadi lebih tinggi, karena harus membuat masakan untuk 155.200 jemaah.

Al-Hussam misalnya mendapat kontrak untuk memasok 24 ribu paket makanan/hari.

"Kami menjamin masakan sesuai rasa Indonesia, dan masih tetap hangat ketika diterima jemaah," kata Hadi yang merupakan lulusan Sekolah Tinggi Pariwisata di Bandung.

Makanan yang hangat dan tidak basi juga menjadi perhatian pemerintah. PPIH meminta perusahaan katering menyiapkan penghangat (heater) agar makanan sampai di hotel tetap enak disantap dan tiba pada paling lambat sebelum pukul 11.00 WAS.

Oleh karena itulah dalam pertemuan tersebut, Direktur Pelayanan Haji Luar Negeri Sri Ilham Lubis yang didampingi Kepala Daerah Kerja (Kader) Makkah Arsyad Hidayat juga mengundang para pemilik pemondokan, karena mereka harus menyiapkan ruang untuk tempat pemanas makanan.

"Alhamdulillah tidak ada yang keberatan, bahkan mereka menyatakan menyanggupi," ujarnya.


Icip-Icip

Tidak hanya Sri yang menyicipi contoh makanan yang disajikan para penyedia katering pada pertemuan tersebut, sejumlah pengawas katering yang terdiri atas ahli gizi, juru masak, dan ahli tata boga juga melakukan test makanan, dari sisi mutu dan rasa masakan, di samping berat setiap masakan apakah sesuai dengan kontrak.

Ada perusahaan katering yang mencoba berinovasi dengan mengubah salah satu menu makanan dari daging rendang menjadi semur daging.

"Mengapa ini jadi semur?" tanya Noval, salah seorang pengawas katering lulusan Sekolah Tinggi Pariwisata di Bandung.

Sesuai data yang ia pegang, perusahaan katering yang mendapat kontrak menu makan siang untuk hari Rabu harus menyajikan nasi putih (200 gr), daging rendang (100 gr), ikan kakap saus asam manis (80 gr), terong balado (80 gr), apel, dan air mineral 600 ml pada setiap paket.

Juru masak yang ditanya Noval menjawab bahwa ia berinsiatif mengganti salah satu menu karena semua masakan dalam paket tersebut pedas dan bersambal.

"Saya ganti semur daging, biar ada yang manis," kata Ujang dari Muassasah Zubaidah.

Namun berdasarkan kontrak, penyedia katering tidak boleh mengubah menu.

"Bapak buat saja sesuai permintaan dalam kontrak," kata Noval sambil mencatat hasil icip-icipnya dalam lembaran kertas yang sudah ada daftar masukan dan penilaian.

Diakui Sri Ilham Lubis, tugas pengawas katering memang berat. Oleh karena itu petugas katering harus memahami kontrak, harus kreatif dan inovatif agar pengawasan lebih efektif.

"Masalah katering, kalau tidak diawasi akan seenaknya, cenderung nakal dan mengurangi porsi makanan," ujarnya.

Oleh Risbiani Fardaniah
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2015

Ada menu garang asem dan tempe bacem di Mekah

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar