fenomena doom spending menuntut adanya kebijakan publik yang proaktif, baik melalui regulasi industri keuangan maupun program literasi yang terarah, agar manfaat konsumsi tetap terjaga tanpa harus mengorbankan stabilitas keuangan generasi mendatang

Wujud di Indonesia

Di Indonesia, tren doom spending Gen Z terlihat dalam beberapa pola nyata antara lain tingginya frekuensi konsumsi pengalaman yang dilakukan pada saat kuliner, menghabiskan waktu di kafe, menonton konser dan traveling, serta belanja fesyen dan streetwear, pembelian gadget terbaru, hingga langganan layanan digital (streaming, game, konten berbayar).

Platform e-commerce, layanan pengiriman makanan, dan fintech paylater menjadi saluran utama realisasi pengeluaran ini.

OJK mencatat kenaikan signifikan pada pembiayaan paylater sebagai salah satu indikator bahwa fasilitas kredit konsumsi digital tumbuh pesat dan banyak digunakan konsumen muda.

Pada Maret 2025 Tech in Asia juga melaporkan pembiayaan paylater tercatat naik 39,3 persen yoy menjadi sekitar Rp8,22 triliun (setara 497 juta dolar AS), sebuah sinyal bahwa kemampuan atau kecenderungan untuk menunda pembayaran memfasilitasi doom spending.

Analisis tren e-commerce & payments 2025 oleh Payments Intelligence menegaskan bahwa Indonesia mengalami percepatan digital payments yang mendorong kemudahan transaksi sebagai sebuah prasyarat penting agar doom spending bisa tereksekusi dalam skala besar. Infrastruktur pembayaran yang mudah membuat pembelian impulsif menjadi lebih cepat dan resistif terhadap rem tradisional.

Laporan komprehensif tentang Gen Z Indonesia (survei 2024–2025 oleh medium riset lokal) menampilkan bagaimana preferensi belanja Gen Z dipengaruhi oleh harga, promo, dan narasi di media sosial, semua faktor yang memodulasi doom spending. Hasil-hasil studi akademik lokal juga mengaitkan literasi keuangan, interaksi media sosial, dan gaya hidup sebagai variabel yang memperkuat perilaku belanja impulsif.

Di sisi lain, hasil survei nasional OJK-BPS pada 2024 justru menunjukkan bahwa peningkatan tren doom spending karena akses ke layanan yang relatif luas belum diikuti oleh literasi yang memadai sehingga memunculkan sebuah celah di mana perilaku konsumtif bisa berkembang tanpa mitigasi yang tepat.

Baca juga: YouGov: Ada pergeseran prioritas belanja dan berhemat antargenerasi

Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.