fenomena doom spending menuntut adanya kebijakan publik yang proaktif, baik melalui regulasi industri keuangan maupun program literasi yang terarah, agar manfaat konsumsi tetap terjaga tanpa harus mengorbankan stabilitas keuangan generasi mendatang
Dampak Terhadap Ekonomi
Tren doom spending yang terjadi tidak selalu harus dimaknai sebagai fenomena negatif, sebab dari sudut pandang perekonomian makro, perilaku konsumsi termasuk konsumsi yang lahir dari dorongan psikologis akibat ketidakpastian masa depan merupakan salah satu pilar utama penggerak pertumbuhan domestik.
Ketika Generasi Z memilih untuk membelanjakan pendapatan mereka pada kafe yang sedang tren, menghadiri berbagai event hiburan, membeli fesyen lokal, berlangganan aplikasi kreatif, hingga menggunakan layanan digital yang semakin beragam, maka aktivitas-aktivitas ini menciptakan efek berantai dalam roda perekonomian.
Permintaan yang meningkat secara langsung mendorong produsen barang dan penyedia jasa untuk meningkatkan kapasitas produksinya. Hal ini pada gilirannya memperluas pasar bagi UMKM dan industri kreatif yang sering kali menjadi pemain utama dalam memenuhi kebutuhan gaya hidup Gen Z.
Pendapatan para pelaku usaha tersebut pun naik, membuka ruang untuk perekrutan tenaga kerja baru dan menciptakan lapangan kerja yang lebih luas. Tidak berhenti di sana, konsumsi yang tercatat melalui saluran formal juga menambah penerimaan negara dari sisi pajak dan retribusi.
Lebih jauh lagi, selera Gen Z yang dinamis dan cenderung cepat berubah memaksa pelaku industri untuk terus berinovasi dalam produk maupun layanan yang ditawarkan.
Dalam konteks Indonesia sebagai negara dengan basis konsumsi domestik yang besar, fenomena ini menjadi penting karena segmen Gen Z mampu menjaga denyut nadi konsumsi di saat permintaan luar negeri melemah atau arus investasi belum sepenuhnya pulih. Dengan demikian, doom spending justru dapat berfungsi sebagai bantalan permintaan jangka pendek yang membantu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional
Namun demikian, di balik geliat positifnya, doom spending juga menyimpan sisi rapuh yang tidak boleh diabaikan. Perilaku konsumsi yang dipicu oleh keresahan dan kecemasan, bila tidak dibarengi dengan literasi finansial yang memadai serta ketersediaan produk pasar yang bertanggung jawab, berpotensi menjerumuskan generasi muda pada berbagai persoalan.
Salah satu risiko yang paling nyata adalah penumpukan utang konsumtif akibat penggunaan kartu kredit, fasilitas paylater, maupun skema cicilan tanpa perencanaan matang. Situasi ini dapat menggerus tingkat tabungan pada kelompok usia produktif, sehingga kapasitas investasi rumah tangga berkurang dan daya tahan mereka terhadap guncangan ekonomi melemah.
Lebih jauh lagi, ketika konsumsi dijadikan mekanisme pelarian sesaat dari tekanan mental, justru muncul ancaman baru berupa memburuknya kesehatan psikologis saat realitas finansial tidak mampu mengimbangi gaya hidup yang dijalani. Tidak sedikit pula potensi kredit macet yang mengintai, terutama pada skema pembiayaan paylater, jika pertumbuhannya tidak diiringi evaluasi risiko yang ketat dan program edukasi konsumen yang memadai.
Apabila kondisi tersebut dibiarkan secara kolektif, risiko-risiko ini bukan hanya menjadi beban individu, melainkan bisa menimbulkan tekanan sosial-ekonomi yang lebih luas. Karena itu, fenomena doom spending menuntut adanya kebijakan publik yang proaktif, baik melalui regulasi industri keuangan maupun program literasi yang terarah, agar manfaat konsumsi tetap terjaga tanpa harus mengorbankan stabilitas keuangan generasi mendatang.
Baca juga: Kiat agar anak muda Jakarta tak berbelanja impulsif kala stres
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.