Alexis Tsipras diambil sumpah sebagai PM Yunani

Alexis Tsipras diambil sumpah sebagai PM Yunani

Pemimpin kiri Syriza dan pemenang suara terbanyak dalam pemilihan umum Yunani Alexis Tsipras dilantik menjadi perdana menteri oleh Presiden Yunani Prokopis Pavlopoulos (kanan) di istana kepresidenan di Athena, Senin (21/9).(REUTERS/Alkis Konstantinidis)

Athena (ANTARA News) - Pemimpin partai sayap-kiri radikal Yunani, SYRIZA, Alexis Tsipras, pada Senin (21/9) diambil sumpah sebagai Perdana Menteri setelah ia tampil sebagai pemenang dalam pemilihan umum Minggu.

Pemimpin sayap-kiri yang berusia 41 tahun itu diambil sumpahnya dalam upacara sipil dan bukan sumpah berdasarkan agama untuk "mengabdi pada hukum, Undang-Undang Dasar dan kepentingan rakyat Yunani", dalam upacara yang diselenggarakan di Rumah Besar Presiden di Athena.

Pada Senin dini hari, Tsipras secara resmi menerima dari Presiden Republik Hellenic Prokopis Pavlopoulos mandat untuk membentuk pemerintah untuk kedua kali dalam delapan bulan.

SYRIZA meraih 35,5 persen suara dan 145 kursi di parlemen mendatang, yang memiliki 300 anggota, demikian hasil akhir yang disiarkan oleh Kementerian Dalam Negeri.

Pada Minggu malam, beberapa jam setelah penutupan pemungutan suara, Tsipras dan Panos Kammenos --pemimpin partai sayap-kanan Rakyat Yunani Merdeka (ANEL), mitra junior dalam pemerintah pertama Tsipras dari Januari sampai Agustus-- mengumumkan keinginan mereka untuk membarui kemitraan koalisi mereka.

Dengan 10 kursi yang diraih ANEL setelah mengantungi 3,7 persen suara, pemerintah baru akan menguasai 155 kursi di parlemen mendatang, kata sebagaimana dikutip dari Xinhua, Selasa pagi.

Pengumuman mengenai susunan itu dan upacara pengambilan sumpah jabatan dijadwalkan diumumkan pada Rabu sore sehingga Tsipras bisa melakukan perjalanan pada Rabu malam ke Brussels untuk menghadiri pertemuan tingkat tinggi mendatang Uni Eropa mengenai krisis pengungsi dan migran.

"Saya kira hari ini Eropa dapat mewujudkan tanggung-jawabnya dalam masalah Eropa," kata Tsipras selama pertemuannya dan Pavlopoulos.

"Sayangnya, kami diberi kesempatan saat krisis ini untuk mewujdukan, terutama mitra kami, bahwa pada inti Uni Eropa, termasuk zona euro, adalah umat manusia. Mata uang dan ekonomi mesti melayani umat manusia," kata Pavlopoulos.

Editor: AA Ariwibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2015

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar