Jakarta (ANTARA News) -Ratusan haji yang meninggal dunia dalam Tragedi Mina pada Kamis pagi waktu setempat lalu diyakini menghembuskan nafas terakhirnya bukan karena terinjak-injak, namun karena sesak yang akut, kata seorang pakar kepada Associated Press.

"Orang-orang saling menaiki tubuh orang hanya untuk bernafas. Ini seperti gelombang. Anda ke depan dan tiba-tiba ke belakang lagi," kata  pakar pengendalian kerumunan Abdullah Lotfy dari Mesir.

Tragedi Mina disebut sebagai tragedi haji terburuk dalam 25 tahun terakhir dan sepertinya memang terjadi karena dua gelombang massa haji yang besar bertemu di satu titik dari berbagai arah.

Pemerintah Kerajaan Arab Saudi sendiri telah mengeluarkan miliaran dolar AS untuk mengakomodasi semakin membludaknya jemaah haji.

Tetapi semakin banyak yang mengkritik bahwa manajemen yang lebih baik akan mencegah peristiwa seperti Kamis pagi itu terulang.

Ini adalah kecelakaan terbesar kedua dalam musim haji ini setelah runtuhnya crance di Masjidil Haram yang menewaskan 111 orang dan melukai 400 orang, demikian laman scpr.org.





 
 

Editor: Jafar M Sidik
Copyright © ANTARA 2015