counter

Masyarakat Baduy optimalkan pangan antisipasi krisis ekonomi

Masyarakat Baduy optimalkan pangan antisipasi krisis ekonomi

ilustrasi Ribuan warga Baduy mengikuti upacara Seba Baduy ditandai dengan menyerahkan hasil bumi di Pendopo Gubernur Banten, di Serang, Sabtu (28/4) malam. Acara yang diikuti 1.640 warga Baduy tersebut merupakan agenda tahunan adat warga Baduy sekaligus merupakan sarana bagi mereka untuk berkomunikasi dengan pemimpinya. (FOTO ANTARA/Asep Fathulrahman)

Kami hingga kini tidak mengalami krisis ekonomi karena hasil produksi pangan melalui pertanian ladang huma melimpah,"
Lebak (ANTARA News) - Masyarakat Baduy di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten, mengoptimalkan ketahanan pangan guna mengantisipasi krisis ekonomi akibat dampak pelemahan nilai rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

"Kami hingga kini tidak mengalami krisis ekonomi karena hasil produksi pangan melalui pertanian ladang huma melimpah," kata pemuka adat Baduy yang juga Kepala Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidmar, Kabupaten Lebak, Saija pada Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian Budi Gardjita di Lebak, Senin.

Masyarakat Baduy yang berpenduduk 11.600 jiwa hingga kini tidak mengalami krisis ekonomi karena produksi pertanian melimpah.

Seluruh warga Baduy kehidupan ekonominya mengandalkan dari hasil pertanian ladang dengan bercocok tanam pangan padi gogo serta tanaman pisang, hortikultura, palawija, dan umbi-umbian.

Mereka sepanjang hari kesibukan aktivitas di ladang serta akhirnya di jual ke tengkulak ataupun penampung.

Beberapa hasil ladang itu bila musim panen dijual ke pasar Rangkasbitung, antara lain durian, gula aren, daun serai, pisang, petai, manggis, dan aneka kerajinan tangan juga budi daya madu hutan.

"Kami terus kehidupan ekonomi Baduy dari bercocoktanam di ladang-ladang huma sehingga tidak mengalami krisis ekonomi," katanya.

Menurut dia, selama ini petani Baduy mengembangkan tanaman pangan maupun hortikultura di ladang-ladang tanpa menggunakan pupuk kimia karena bertentangan dengan adat setempat.

Pengunaan pupuk kimia itu, kata dia, selain dilarang oleh kebiasaan adat, juga bisa menyebabkan rusaknya tanah.

Oleh karena itu, lanjut dia, masyarakat Baduy hingga kini lebih memprioritaskan pupuk organik dari sampah ataupun bekas pembakaran ladang.

Umumnya petani Baduy bertanam itu di ladang dengan tempat perbukitan juga berpindah-pindah hingga tempat tanamannya subur.

"Kami mulai sejak dahulu sampai saat ini belum dirundung krisis ekonomi ataupun kelaparan lantaran hasil bumi itu, seperti padi huma untuk keperluan keluarga saja," ujarnya.

Ia mengatakan bahwa orang-orang Baduy memercayakan ekonomi dari hasil bumi dengan bercocoktanam di lahan darat.

Mereka mengembangkan lahan pertanian di perbukitan karena cocok ditanam padi gogo dengan benih lokal.

Produksi tanaman padi gogo hingga mencapai 6 bulan bisa dipanen.

Masyarakat Baduy tetap mempertahankan produksi pangan dari nenek moyangnya, termasuk larangan memiliki media elektronika juga jaringan aliran peenrangan listrik.

Ahmad, petani Baduy, mengatakan bahwa dirinya tiap minggu jual daun serai dengan harga Rp14 ribu per kilogram ataupun pisang.

Ia membawa daun serai sejumlah dua karung atau seputar 30 kg hasil penanaman di ladang.

Ahmad menjualnya itu ke penampung di Pasar Rangkasbitung.

"Kami terbantu ekonomi keluarga dengan jual hasil pertanian itu," jelasnya.

Dari pantauan, sejumlah warga Baduy menjual hasil pertanian di Pasar Rangkasbitung dengan membawa pisang, daun serai, petai, dan umbi-umbian. Mereka warga Baduy membawa hasil pertanian itu dengan menggunakan transportasi kendaraan.

"Kami setiap pekan menjual daun serai dengan harga Rp14 ribu per kilogram," kata Santa, warga Baduy yang tinggal di Kampung Keter, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak.

Pewarta: Mansyur
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2015

Membangun ketahanan pangan lewat bendungan

Komentar