Tantangan ini menegaskan bahwa hilirisasi bukan hanya membangun pabrik pengolahan, tetapi membangun ekosistem industri yang lengkap, mencakup pelabuhan perikanan modern, rantai logistik dingin, pusat riset mutu dan teknologi, sistem kemitraan antara nelayan dan perusahaan, serta tata kelola perizinan yang efisien.

Surabaya dapat mengambil peran kepemimpinan baru dalam hal ini. Dengan memanfaatkan momentum PSN, pemerintah daerah bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan dapat menjadikan reklamasi Pantai Kenjeran, bukan hanya proyek fisik, tetapi juga simbol transformasi ekonomi biru.

Kawasan ini bisa dirancang sebagai model hilirisasi terpadu yang mengintegrasikan sektor tangkap, budi daya, pengolahan, ekspor, hingga wisata bahari.

Dengan kapasitas gudang pendingin hingga 5.000 ton, industri pengolahan dapat menjamin keberlanjutan pasokan bahan baku dari wilayah perairan timur, sekaligus membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat lokal.

Kolaborasi dengan petambak udang Vaname dan nelayan plasma dapat memperkuat rantai pasok domestik yang efisien dan inklusif.

Hanya saja, skala ambisi seperti itu membutuhkan investasi besar dan kepastian hukum yang kuat. Dengan estimasi nilai investasi di atas Rp7 triliun dan kebutuhan lahan mencapai 120 hektare, reklamasi menjadi satu-satunya opsi realistis.

Investasi semacam ini hanya akan menarik jika ada jaminan keberlanjutan dan keamanan bisnis. Pemerintah perlu memastikan kepastian perizinan, dukungan infrastruktur dasar, serta insentif fiskal dan nonfiskal yang kompetitif.

Lebih dari itu, aspek lingkungan harus menjadi perhatian utama. Reklamasi, tanpa kajian ekologis yang matang akan mengundang resistensi sosial dan merusak kredibilitas proyek.

Oleh karena itu, pendekatan pembangunan harus menempatkan prinsip ekonomi biru sebagai landasan yang efisien, inklusif, dan berkelanjutan.


Strategi industrialisasi

Hilirisasi perikanan di Surabaya juga harus menjadi bagian dari strategi industrialisasi nasional yang lebih luas.

Ini bukan sekadar proyek lokal, tetapi upaya memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global produk perikanan. Jika berhasil, kawasan ini dapat menjadi game changer di Asia, menyaingi pusat industri perikanan di Thailand dan Vietnam.

Dengan dukungan investor global yang membawa teknologi modern, Indonesia bisa menggeser paradigma ekspor bahan mentah menjadi ekspor produk olahan bernilai tinggi, seperti tuna kaleng, surimi, fillet premium, dan produk siap saji.

Nilai tambah inilah yang akan memperkuat neraca perdagangan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan nelayan.

Meskipun demikian, keberhasilan hilirisasi tidak hanya bergantung pada modal dan regulasi. Faktor manusia menjadi kunci. Pendidikan dan pelatihan tenaga kerja maritim perlu diperkuat agar mampu mengoperasikan teknologi modern dan memahami standar internasional ekspor.

Perguruan tinggi dan lembaga riset kelautan di Surabaya dapat menjadi mitra strategis untuk riset inovasi pengolahan dan keberlanjutan sumber daya. Dengan demikian, hilirisasi tidak berhenti di tataran industri, tetapi melahirkan transfer pengetahuan dan budaya maritim baru yang membanggakan.

Jadi, mungkinkah hilirisasi perikanan di Surabaya? Jawabannya bukan sekadar mungkin, tetapi harus. Sebab Indonesia terlalu kaya untuk terus menjual hasil lautnya dalam bentuk mentah.

Surabaya memiliki semua prasyarat untuk menjadi kota maritim masa depan, dengan letak strategis, ekosistem industri, dukungan kebijakan, dan semangat transformasi.

Hal yang dibutuhkan, kini, hanyalah keberanian politik, kolaborasi lintas sektor, dan komitmen terhadap keberlanjutan.

Jika semua unsur itu berpadu, maka dari Surabaya dapat lahir babak baru kemandirian ekonomi maritim Indonesia, sebuah model hilirisasi yang bukan hanya meningkatkan nilai tambah, tetapi juga memuliakan laut sebagai sumber kehidupan bangsa.


*) Adji Sularso adalah mantan Dirjen Pengawasan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) dan Ketua Persatuan Wredatama Kelautan dan Perikanan (PKWP)

Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.