Baghdad (ANTARA) - Dewan Menteri Irak pada Selasa menyetujui rencana pertanian terbatas untuk musim dingin 2025-2026 yang membatasi area penanaman karena kekeringan parah di negara tersebut.
Pernyataan dari kantor media Perdana Menteri (PM) Irak Mohammed Shia' al-Sudani mengatakan bahwa dewan tersebut telah sepakat untuk membatasi rencana pertanian musim dingin hingga 2.500 kilometer persegi, yang dikelola menggunakan air permukaan, selain 8.750 kilometer persegi lahan yang dikelola menggunakan air tanah.
Rencana tersebut juga menguraikan langkah-langkah ketat yang diperlukan untuk mengelola penggunaan air dengan menetapkan penggunaan sistem irigasi modern untuk lahan pertanian gandum yang dikelola dengan air tanah atau air permukaan. Rencana tersebut juga memperingatkan bahwa Kementerian Perdagangan Irak tidak akan menerima gandum dalam jumlah berapa pun yang ditanam di luar rencana pertanian yang telah ditetapkan oleh Kementerian Pertanian.
Pembatasan tersebut muncul setelah laporan surat kabar resmi Irak, al-Sabah, yang menunjukkan bahwa tingkat penyimpanan air di bendungan dan waduk-waduk utama telah turun hingga ke titik terendah dalam satu dekade. Para ahli mengaitkan situasi kritis ini dengan berkurangnya curah hujan musiman dan dampak akut dari pembangunan bendungan di negara-negara hulu, yang memicu penurunan aliran masuk air dari sungai Tigris dan Efrat.
Irak dan Turkiye pada Minggu (2/11) menandatangani mekanisme eksekutif untuk melaksanakan perjanjian kerja sama pengelolaan air. Langkah dipuji oleh al-Sudani sebagai salah satu solusi berkelanjutan untuk krisis air di Irak.
Pewarta: Xinhua
Editor: Indra Arief Pribadi
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.