Kuala Lumpur (ANTARA) - Penerapan kecerdasan buatan (AI) di Malaysia tengah naik daun dengan tingkat pertumbuhan tahunan sebesar 35 persen, mengingat 27 persen bisnis di negara tersebut telah mengadopsi AI, menurut laporan Amazon Web Services (AWS).
Xinhua melaporkan pada Rabu, AWS mengatakan bahwa studi mereka yang berjudul "Membuka Potensi AI Malaysia" (Unlocking Malaysia's AI Potential) menemukan bahwa adopsi AI paling kuat tercatat di sektor teknologi dan jasa profesional (49 persen), diikuti oleh jasa keuangan (42 persen), dan manufaktur (39 persen).
Namun, sebagian besar bisnis Malaysia (73 persen) masih berfokus pada penggunaan AI yang bersifat dasar. Hanya 31 persen perusahaan rintisan (startup) dan 15 persen perusahaan besar yang telah mengadopsi AI yang sedang mengembangkan produk baru yang sepenuhnya berbasis AI.
Meskipun adopsi AI semakin meluas di Malaysia, AWS menyoroti bahwa sebagian besar bisnis belum memanfaatkan penggunaan AI yang paling canggih, seraya menekankan perlunya memperdalam adopsi AI untuk membuka potensi penuh AI di Malaysia.
Menurut penelitian itu, 73 persen bisnis Malaysia yang telah mengadopsi AI tetap fokus terutama pada kasus-kasus penggunaan dasar, seperti meningkatkan efisiensi dan menyederhanakan proses menggunakan AI, alih-alih inovasi seperti mengembangkan produk baru atau mendisrupsi industri.
Dari seluruh bisnis yang mengadopsi AI di Malaysia, hanya 17 persen yang telah mencapai tahap menengah dalam adopsi AI, dan hanya 10 persen yang telah mencapai tahap paling transformatif dalam integrasi AI.
Penerjemah: Xinhua
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.