counter

Terpapar berat asap, 18 bayi dirawat intensif

Terpapar berat asap, 18 bayi dirawat intensif

Dokumentasi sejumlah dokter Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Pekanbaru membagikan masker pelindung pernapasan kepada pengguna jalan raya di Pekanbaru, Riau, Kamis (1/10). Solidaritas masyarakat melalui berbagai media dan forum makin mengkristal menuntut pemerintah lebih fokus dan cepat memadamkan kebakaran asap dan lahan di Pulau Sumatera dan Pulau Kalimantan. (ANTARA FOTO/Rony Muharrman)

... ke depan masih rawan asap, maka tidak menutup kemungkinan jumlah anak yang berobat bertambah...
Kuantan Singingi, Riau (ANTARA News) - Sebanyak 18 bayi di Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit umum daerah akibat terpapar berap asap kebakaran hutan dan lahan.

"Hingga saat ini RSUD sudah menangani puluhan anak -anak dan bayi yang terkena dampak kebakaran lahan dan hutan," kata Kepala Bidang PMK Dinas Kesehatan Kuantan Singingi, Detri Elvira, di Teluk Kuantan, Kamis.

Bayi dan anak-anak, katanya, lebih beresiko tinggi terhadap paparan asap kebakaran hutan dan lahan ketimbang orang dewasa. "Kami berikan pelayanan maksimal," sebutnya.

Menurutnya, beberapa bayi masuk ruangan ICU karena harus diberi bantuan pernafasan bahkan ada bayi baru berumur 11 bulan yang telah dirawat. 

"Jika ke depan masih rawan asap, maka tidak menutup kemungkinan jumlah anak yang berobat bertambah," kata dia. 

Hendri salah satu warga Lubuk Ambacang juga menyebutkan, "Kabut asap ini tidak bisa lagi diatasi dengan masker gratis dari Dinas Kesehatan tetapi harus pakai masker yang kualitas terbaik."

Sebelumnya, Wakil Ketua Komisi IV DPR, Siti Hediati atau Mbak Titik, mengatakan, pemerintah tak perlu malu atau gengsi menerima bantuan dari negara lain untuk mengatasi kabut asap yang terjadi di Pulau Sumatera dan Pulau Kalimantan.



"Saya tahu pemerintah sudah berbuat sesuatu tapi tidak maksimal. Kalau perlu bantuan, terima bantuan itu karena Singapura punya pesawat, punya alat-alat yang bisa bikin hujan buatan, ya terima aja, masak nunggu rakyat kita mati, baru terima bantuan. Jangan gengsilah untuk menyelamatkan bangsa ini," kata dia.




Selama ini hanya ada 25 unit pesawat terbang dan helikopter untuk menanggulangi hampir 2.000 titik asap di kedua pulau besar Indonesia itu. Satu helikopter diketahui hanya mampu menerbangkan sekitar empat ton air untuk diguyur di titik kebakaran. 




Tentang keperluan menambah atau membeli pesawat terbang amfibi multi fungsi guna menanggulangi asap kebakaran hutan dan lahan, Menteri Koordinator bidang Politik, Keamanan, dan Hukum, Luhut Pandjaitan, pernah berujar belum ada rencana membeli, kita sudah punya 25 pesawat.




Mbak Titik juga menyayangkan pernyataan Presiden Jokowi yang disampaikan Menteri Sekretaris Kabinet, Pramono Anung, bahwa presiden sedang mengamati masalah kabut asap ini. 




Sementara korban-korban jiwa terkait langsung atau tidak langsung dari paparan asap kebakaran hutan dan lahan ini sudah berjatuhan, belum lagi dampak di negara-negara tetangga. 




"Katanya presiden sedang mengamati, loch kok diamati, kalau diamati keburu mati. Masak tega banget sich, bertindak dong. Kabut asap ini bisa ditanggulangi secepatnya karena ini pembunuhan secara perlahan-lahan dan ini pembunuhan massal kalau didiamkan saja," kata dia.


Tentang penanggulangan dari sisi kesehatan manusia, Menteri Kesehatan, Nila Moeloek, telah menyatakan, pemerintah sudah mengantisipasi; telah menyalurkan lebih dari 20.000 ton perlengkapan kesehatan, di antaranya masker-masker kepada penduduk yang terpapar asap. 

Pencemaran udara meningkat, Pemkot Pontianak liburkan sekolah

Pewarta: Asripilyadi
Editor: Ade P Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2015

Komentar