Jakarta (ANTARA) - Transformasi digital di Indonesia kini memasuki tahap baru yang tidak hanya berfokus pada perluasan akses, tetapi juga menekankan keberlanjutan, inklusivitas, serta efisiensi di seluruh lapisan masyarakat.
Hal itu mengemuka dalam diskusi bertema “Beyond Digitalization: Rethinking Business Model for the Tech Age” yang menjadi bagian dari rangkaian National Technology Summit 2025. Diskusi tersebut menghadirkan dua narasumber utama, yakni EVP Group Application Management Bank Central Asia (BCA) Thomas Lahey dan Sekretaris Komunikasi Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Tigor Jackson.
Thomas mengatakan bahwa perjalanan digitalisasi BCA telah dimulai jauh sebelum istilah transformasi digital populer. Meski layanan digital kini didominasi kanal mobile, BCA tetap mempertahankan jaringan cabang konvensional untuk menjangkau wilayah yang belum memiliki akses internet optimal.
“Kami masih membuka mungkin 10 cabang setiap tahunnya karena tidak semua tempat memiliki akses internet yang baik. Masih ada wilayah yang belum terjangkau,” kata Thomas di Jakarta pada Kamis.
Ia menambahkan, keberlanjutan transformasi digital tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga oleh inklusivitas layanan dan literasi digital agar masyarakat tidak tertinggal dalam arus inovasi.
Sementara itu, Tigor Jackson menyoroti perubahan ekosistem bisnis penyedia layanan internet, internet service provider (ISP) yang kini lebih berorientasi pada kualitas layanan.
“ISP sekarang lebih menekankan pada layanan dengan kualitas yang baik serta menyediakan dukungan maintenance service, bukan hanya mengejar jumlah pelanggan,” ujarnya.
Baca juga: Linknet dorong pemerataan internet Indonesia lewat transformasi bisnis
APJII mencatat peningkatan pengguna fixed broadband sebesar 11,3 persen, menunjukkan pergeseran kebutuhan masyarakat terhadap koneksi yang lebih stabil dan efisien energi. Tigor menuturkan, pembangunan jaringan kini diarahkan pada model yang berkelanjutan, termasuk efisiensi pengelolaan data dan penerapan prinsip ramah lingkungan.
Selain penguatan infrastruktur, APJII juga aktif mendorong literasi digital dan keamanan siber melalui pelatihan bagi anggotanya, serta turut memberikan masukan dalam penyusunan kebijakan seperti Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (PDP).
“Kami aktif meningkatkan literasi digital, memberikan masukan kepada pemerintah dan masyarakat melalui berbagai forum seperti ini,” ujar Tigor.
Ia menyebut, masih terdapat tingkat kekhawatiran tinggi di masyarakat terhadap penipuan daring, yang mencapai 24,37 persen dari total pengguna internet.
Thomas menambahkan, edukasi bagi nasabah menjadi langkah penting untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap keamanan data dalam transaksi digital.
“Mungkin teman-teman sudah tahu kampanye ‘Don’t Know Kasih Know’. Itu salah satu bentuk edukasi kami bagi pengguna layanan perbankan digital,” katanya.
Baca juga: Menkomdigi minta PJI sediakan akses internet terjangkau
Baca juga: Bitera fasilitasi data center untuk penyelenggaraan IIX
Pewarta: Ida Nurcahyani
Editor: Indriani
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.