Kuwait City (ANTARA) - Berjarak lebih dari satu jam berkendara ke selatan dari Kuwait City, pemandangan perkotaan perlahan berganti dengan hamparan gurun yang luas di area Al Wafrah di Kegubernuran Ahmadi.
Di lanskap yang terik ini, di mana vegetasi jarang ditemukan dan warna hijau menjadi pemandangan yang langka, seorang petani bernama Sari Al-Azmi telah melakukan hal yang luar biasa, yakni menciptakan oasis pertanian subur yang didukung oleh teknologi dan peralatan China.
"Pada Agustus tahun ini, pisang yang saya tanam dijual di pasar lokal untuk pertama kalinya, ini juga merupakan batch pertama pisang yang ditanam secara lokal di Kuwait," ujar Al-Azmi kepada Xinhua dengan nada bangga. Terobosan ini telah dipuji media lokal sebagai "tonggak penting" dalam pertanian Kuwait.
Al-Azmi dengan hangat memandu sekelompok pengunjung asal China melihat-lihat rumah kaca miliknya, di mana angin sejuk menyambut mereka bahkan sebelum mereka melangkah masuk.
Deretan tanaman hijau dan pohon buah tampak sangat kontras dengan tanah gersang di luar rumah kaca tersebut. Dia menepuk rangka baja dan atap plastik dengan rasa bangga, lalu menekan sakelar untuk menunjukkan sistem pendingin air otomatis.
Sembari tersenyum, ia mengulang kata dalam bahasa Arab, "Alsini", yang berarti "China". "Semua peralatan ini berasal dari China," tuturnya.
Mulai dari pita pengikat dan sabit hingga sepeda listrik roda tiga dan traktor, sebagian besar peralatan yang menjaga kelangsungan operasional pertanian ini diimpor dari China.
Menurut Serikat Petani Kuwait, terdapat sekitar 7.500 lahan pertanian berskala besar di negara itu, yang sebagian besar di antaranya terletak di Al Wafrah dan Al Abdali.
Mayoritas lahan pertanian itu menggunakan peralatan dan material buatan China, mulai dari mesin berat dan kipas rumah kaca hingga sistem irigasi tetes dan pupuk.
Sebagai petani berpengalaman yang mempelajari keahlian tersebut dari sang ayah, Al-Azmi telah lama bermimpi mengubah gurun menjadi tanah yang subur. Selama bertahun-tahun, iklim yang ekstrem membuat impian itu tampak mustahil.
Namun, seiring semakin dalamnya kerja sama Kuwait-China di bawah Inisiatif Sabuk dan Jalur Sutra yang diusulkan oleh China, teknologi China mulai menawarkan solusi baru.
"Pada 2016, kami mulai mengembangkan pertanian yang menggunakan fasilitas modern. Untuk menjajaki teknologi dan peralatan, kami mengunjungi beberapa negara," kenang Al-Azmi. Saat mengunjungi Canton Fair di Guangzhou, dirinya menemukan sistem rumah kaca otomatis yang kelak mengubah pertaniannya selamanya.
"China meninggalkan kesan mendalam bagi kami. Di Guangzhou, kami belajar tentang teknologi pertanian terkini dan membawa banyak di antaranya pulang ke Kuwait," tuturnya.
Saat ini, luas lahan pertanian milik Al-Azmi mencapai 85.000 meter persegi dan mencakup lebih dari 200 rumah kaca yang dilengkapi dengan sistem pendingin asal China.
Bahkan ketika suhu di luar ruangan mendekati 50 derajat Celsius, kipas dan sirkulasi air menjaga suhu di dalam rumah kaca tersebut tetap di bawah 30 derajat Celsius, mengatasi salah satu tantangan terbesar dalam aktivitas bertani di gurun.
Lahan pertanian miliknya saat ini menanam lebih dari 30 jenis buah dan sayuran, termasuk jeruk dan buah naga. Lahan pertaniannya telah menjadi landmark setempat, menarik perhatian warga bahkan anggota keluarga kerajaan Kuwait. Al-Azmi bahkan telah dua kali diundang dan mendapatkan pujian dari kepala negara Kuwait.
Didorong oleh perpaduan semangat dan pragmatisme, Al-Azmi selalu memantau harga pasar dengan cermat. "Sebagian besar buah dan sayuran di Kuwait bergantung pada impor, dan pisang biasanya cukup mahal di sini," tuturnya. "Jadi saya berpikir, karena sekarang kita punya rumah kaca, mengapa tidak menanamnya sendiri?"
Dia memulainya dengan delapan pohon pisang. Semua pohon itu berhasil bertahan, tumbuh subur, dan menghasilkan pohon muda. Saat ini, lahan pertanian miliknya memiliki lebih dari 20.000 pohon pisang.
"Aktivitas bertani kami tidak sekadar untuk mencari laba, ini untuk melayani negara yang kami cintai," ujar Al-Azmi. "Pisang impor dijual sekitar 0,6 dinar Kuwait (1 dinar Kuwait = Rp54.463) atau sekitar 2 dolar AS (1 dolar AS = Rp16.729) per kilogram, sementara pisang yang kami tanam secara lokal dijual seharga 0,3 dinar Kuwait. Kami berhasil memangkas harga hingga separuhnya. Keunikan pisang kami terletak pada kesegarannya, langsung dari lahan pertanian ke tangan konsumen."
Saat matahari terbenam di balik bukit pasir keemasan, Al-Azmi masih bersemangat untuk menunjukkan lebih banyak hal kepada para pengunjung China.
Sebelum mereka pergi, dia menyalakan tungku dupa Arab tradisional, sebagai simbol berkah dan persahabatan abadi, lalu mempersembahkannya kepada para tamunya.
Pewarta: Xinhua
Editor: Martha Herlinawati Simanjuntak
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.