counter

Menteri Yohana: pernikahan usia muda di NTB tinggi

Menteri Yohana: pernikahan usia muda di NTB tinggi

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembise (ANTARA FOTO/Vitalis Yogi Trisna)

Kita masih tinggi di usia perkawinan muda, kalau nasional itu 2,3 persen, NTB mencapai 58 persen"
Mataram (ANTARA News) - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PP-PA) Yohana Yembise mengungkapkan angka pernikahan pada usia muda di Nusa Tenggara Barat tertinggi di Indonesia.

"Masalah perempuan NTB ini, masih pada tingginya angka perkawinan di usia muda," kata Yohana Yembise saat bertemu Gubernur NTB, PKK, Muspida provinsi, kabupaten/kota, organisasi perempuan dan anak, termasuk tokoh agama di Mataram, NTB, Kamis.

Dia mengatakan, tingginya angka menikah di usia muda ini harus bisa diturunkan. Karena, dari banyak kasus, pemicu tingginya angka perceraian antara lain karena pernikahan di usia muda. Belum lagi ditambah adanya kasus kekerasan baik terhadap perempuan dan anak.

"Belum waktunya menikah sudah menikah. Bahkan ada baru menikah satu minggu saja sudah bercerai. Akibatnya terkadang terjadi tindak kekerasan," terangnya.

Selain tingginya pernikahan di usia muda, NTB menurt Yahona, termasuk salah satu daerah dengan tingkat perdagangan manusia paling tinggi, terutama terjadi pada perempuan.

Karena itu, dalam upaya menurunkan tinggi kedua kasus itu, Kementerian PP-PA berupaya membantu dan mendampingi pemerintah provinsi. Terutama, dalam melakukan pelatihan Tenaga Kerja Wanita (TKW), karena masalah trafficking paling banyak terjadi di daerah itu.

"Kami akan bekerja sama dengan beberapa lembaga untuk memberikan pelatihan kepada TKW, sehingga tenaga kerja kita memiliki kemampuan yang mumpuni ketika bekerja di luar negeri," katanya.

Rencananya, pelatihan ini akan dilaksanakan pada tahun 2019. Dengan adanya pelatihan tenaga kerja ini harapannya dapat menurunkan tingkat perkawinan di usia muda.

Lebih lanjut, Yohana Susana Yembise juga tidak menampik isu perempuan dan anak merupakan isu internasional. Oleh karenanya, Indonesia harus mempersiapkan diri untuk berjuang mengangkat hak-hak anak dan perempuan di mata internasional.

"Jika kita bisa berkoordinasi dengan baik dengan pemerintah, swasta, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta pihak-pihak lainnya, maka kedepannya kita dapat membawa masa depan perempuan dan anak-anak menjadi lebih baik. Karena anak-anak adalah generasi penerus bangsa yang membawa tongkat estafet demi kemajuan bangsa Indonesia," kata dia.

Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana NTB Wismaningsih tidak menampik jika angka pernikahan usia muda di NTB tinggi, berdasarkan data 2014, angka pernikahan usia muda di NTB mencapai 50,1 persen. Dengan usia rata-rata perkawinan di bawah 15 tahun.

"Kita masih tinggi di usia perkawinan muda, kalau nasional itu 2,3 persen, NTB mencapai 58 persen," katanya.

Pewarta: Nur Imansyah
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2015

Komentar