Ketika mewancarai Gorbachev, Juli 1987 tersebut, Diah tidak mengajukan pertanyaan provokatif yang mendorong superioritas Uni Soviet atas Amerika Serikat dalam Perang Dingin, melainkan mendorong jalan keluar lahirnya kesepakatan yang sempat beberapa k

Peace Journalism

Ketika mewancarai Gorbachev, Juli 1987 tersebut, Diah tidak mengajukan pertanyaan provokatif yang mendorong superioritas Uni Soviet atas Amerika Serikat dalam Perang Dingin, melainkan mendorong jalan keluar lahirnya kesepakatan yang sempat beberapa kali buntu.

Pertanyaan dan sudut pemberitaan ini belakangan dikenal dengan sebutan peace journalism, konsep yang diperkenalkan sosiolog Norwegia, Johan Galtung, pada 1970-an.

Mungkin saja, pada saat itu BM Diah tidak mengacu pada konsep Johan Galtung, yang mempromosikan solusi damai dalam memberitakan konflik. Tanggung jawab moral sebagai wartawanlah yang mengantarkan Diah mengajukan pertanyaan solutif tersebut, bukan mencari judul sensasional dalam strategi clickbait – yang kini dianut sebagian media yang menyesatkan.

Pak Diah sangat layak mendapat penghargaan sebagai tokoh penting dalam sejarah kewartawanan Indonesia. Pernah sebagai asisten Dr Ernest Douwes Dekker (Setiabudi) di Ksatrian Instituut (Sekolah Ksatrian), Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dan Duta Besar di Cekoslowakia, Hongaria, Inggris, dan Thailand pada periode 1959-1968, Menteri Penerangan (1966 hingga 1968), dan pejuang kemerdekaan.

BM Diah – kelahiran Barus, Sumatra Utara, 7 April 1917, wafat 10 Juni 1996 – telah membuat sejarah penting dunia jurnalistik untuk dunia damai, dunia bebas senjata nuklir, yang kita nikmati saat ini.

Baca juga: In Memoriam -- Herawati Diah, wartawati penerjemah teks Proklamasi Kemerdekaan RI

*) Asro Kamal Rokan, Wapemred Harian Merdeka (1993-1994), Pemred Harian Republika (2003-2005), Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi LKBN Antara Redaksi(2005-2007), Anggota Dewan Kehormatan PWI Pusat (2018-2023), kini anggota Dewan Penasihat PWI Pusat (2025-2030).

Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.