Jakarta (ANTARA) - Kementerian Ekonomi Kreatif ingin memperkuat kolaborasi dengan pihak global melalui pemberian dukungan dalam penyelenggaraan festival Malaysia Islamic Art and Design yang rencananya akan digelar pada November 2026.

“Lewat festival ini tentu Indonesia bisa membidik posisi sebagai kawasan ekonomi kreatif masa depan yang dinamis dan menguatkan kolaborasi lintas bidang seni, media, dan pendidikan," kata Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya dalam keterangan resmi yang dikonfirmasi di Jakarta, Selasa.

Melalui audiensi dengan tim Malaysia pada Senin (10/11), Riefky berhadap dukungan yang diberikan dapat menciptakan multiplier effect bagi industri kreatif, sekaligus mengejar target pertumbuhan PDB, ekspor, investasi, dan tenaga kerja sektor ekonomi kreatif (ekraf).

Baca juga: Kemenekraf sambut dukungan IKA NHI untuk memperkuat ekonomi kreatif

Dukungan dari pihak kementerian juga menjadi bentuk tanggung jawab untuk fokus pada akselerasi seperti menyediakan lebih banyak promosi dan jaringan untuk meningkatkan posisi tiap sub sektor ekraf bisa mengakses pasar global.

Terlebih festival itu dapat dijadikan sebagai platform budaya pertama di Asia Tenggara yang secara khusus mengangkat warisan seni dan desain Melayu-Islam.

Festival Malaysia Islamic Art and Design punya peran penting dalam peningkatan subsektor ekonomi kreatif, seperti pengembangan kapasitas talenta muda melalui program edukasi, workshop, residensi kreatif, dan lab Creative Exchange.

Baca juga: Kemenekraf buka ruang dialog perkuat ekosistem fotografi nasional

Director &Advisory Ltd Paulina Gallardo menambahkan festival memiliki format kegiatan sebagai pameran seni dan industri kreatif tahunan yang menampilkan warisan dan praktik kontemporer Melayu-Islam secara bergilir di negara-negara Melayu. Tujuannya untuk mempertemukan seniman, desainer, kolektor, dan institusi dari seluruh dunia untuk menciptakan koneksi atau kolaborasi.

Rencananya, kegiatan akan digelar November 2026 bertepatan dengan perayaan ulang tahun Sultan Brunei ke-80 dan lokasi acara bakal berada di Bandar Seri Begawan, Brunei.

“Ketika berbicara tentang budaya melayu, tentu Malaysia, Indonesia, Brunei, dan Singapura menjadi pasar terpadu yang paling dinamis untuk dieksplorasi secara keseluruhan," katanya.

Baca juga: Mematahkan rantai monopoli dan pembajakan film nasional

President Katha Chitta Otis Hahijary turut menyampaikan pihak penyelenggara berharap bisa mendapat dukungan resmi dari Pemerintah Indonesia lewat endorsement atau kolaborasi untuk menyamakan visi dan strategi yang selaras sesuai dengan prioritas nasional ekonomi kreatif.

Apalagi nilai-nilai dasar dalam festival ini mengusung elemen arif (kebijaksanaan), santun, dan kasa (kekuatan) yang mewujudkan warisan Melayu-Islam sebagai identitas budaya yang berlangsung secara dinamis dan global.

“Kami butuh semacam endorsement supaya kami bisa mengajukan ke sponsor korporasi dan mudah-mudahan acara ini tetap berlangsung tahun depan,” ujar dia.

Baca juga: Kemenekraf-KMHDI jajaki kolaborasi untuk akselerasi UMKM mahasiswa

Baca juga: Kemenekraf dorong puluhan jenama lindungi identitas brand dengan HAKI

Pewarta: Hreeloita Dharma Shanti
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.