Jakarta (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menargetkan sebanyak 6.500 peserta mengikuti program Sekolah Lapang Iklim dan Cuaca Nelayan pada tahun 2026.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan bahwa jumlah tersebut meningkat signifikan dari 4.490 peserta tahun ini yang tersebar di 25 provinsi.

“Sekolah lapang adalah sarana pembelajaran langsung agar petani dan nelayan mampu membaca tanda-tanda alam dan mengantisipasi risiko iklim,” kata dia dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi V DPR RI di Jakarta, Selasa.

Program itu juga diperluas melalui inisiatif BMKG Goes to School di 100 lokasi untuk memperkenalkan literasi iklim bagi pelajar.

BMKG telah mengusulkan pergeseran anggaran sebesar Rp11,4 miliar untuk memperkuat pelaksanaan program tersebut pada tahun depan.

Menurut Fathani, peningkatan kapasitas masyarakat menjadi salah satu pilar penting dalam membangun ketahanan terhadap perubahan iklim.

“Adaptasi berbasis komunitas harus terus ditumbuhkan, karena masyarakatlah garda terdepan menghadapi dampak iklim,” kata dia.

Dalam kesempatan itu, Ahli Kebencanaan dari Universitas Gadjah Mada (UGM) ini berharap dukungan dari Komisi V DPR RI dan kementerian teknis - pemerintah daerah agar kegiatan pendidikan iklim mendapat prioritas dalam alokasi anggaran.

Baca juga: Akurasi informasi BMKG tembus 102 persen dari target nasional
Baca juga: BMKG perluas radar cuaca untuk peringatan ekstrem di wilayah maritim

Pewarta: M. Riezko Bima Elko Prasetyo
Editor: Riza Mulyadi
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.