Washington (ANTARA) - Kapal induk terbesar di dunia, USS Gerald R. Ford, tiba di Laut Karibia, seperti diumumkan Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) pada Selasa (11/11).
Kedatangan kapal tersebut memicu spekulasi bahwa Washington menargetkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro sebagai bagian dari apa yang disebut pemerintahan Trump sebagai kampanye antinarkotika dan terorisme.
Dengan pengerahan Gerald R. Ford Carrier Strike Group, pasukan AS di Karibia kini berjumlah lebih dari 15.000 personel, menjadikannya konsentrasi militer terbesar di kawasan tersebut dalam beberapa dekade terakhir.
"Pasukan-pasukan ini akan memperkuat dan meningkatkan kemampuan yang sudah ada untuk menggagalkan perdagangan narkotika serta melemahkan dan membongkar Organisasi Kriminal Transnasional," ungkap juru bicara (jubir) Pentagon Sean Parnell dalam pernyataan Angkatan Laut AS.
Kapal induk pertama di kelasnya ini, yang mengangkut lebih dari 4.000 awak kapal dan puluhan pesawat tempur taktis, dapat meluncurkan dan mendaratkan pesawat bersayap tetap (fixed-wing) secara bersamaan baik siang maupun malam untuk mendukung operasi-operasi yang ditugaskan, menurut pernyataan tersebut.
Selain Gerald R. Ford, gugus serang kapal induk tersebut meliputi sembilan skuadron yang tergabung dalam Carrier Air Wing Eight, kapal perusak berpeluru kendali kelas Arleigh Burke dari Destroyer Squadron Two yaitu USS Bainbridge dan USS Mahan, serta kapal komando pertahanan udara dan rudal terintegrasi USS Winston S. Churchill, papar pernyataan itu.
Laksamana Alvin Holsey, komandan dari Komando Selatan AS (U.S. Southern Command/USSOUTHCOM), menyebutkan bahwa pengerahan pasukan ini "menandakan langkah kritis dalam memperkuat tekad kami untuk melindungi keamanan Belahan Bumi Barat dan keselamatan tanah air Amerika."
Sejak 2 September, pasukan AS telah menenggelamkan 19 kapal yang diduga mengangkut narkotika di perairan internasional Karibia dan Pasifik Timur, menewaskan setidaknya 76 orang di atas kapal tersebut.
Maduro telah berulang kali mengecam tindakan Washington sebagai upaya untuk menggulingkan pemerintahannya dan memperluas pengaruh militer AS di Amerika Latin. Presiden Kolombia Gustavo Petro menuduh pemerintah AS melakukan "pembunuhan" atas tewasnya orang-orang di laut.
Presiden AS Donald Trump pada bulan lalu mengatakan bahwa dia masih belum memutuskan apakah AS akan menyerang target-target darat di dalam Venezuela, tetapi mengakui bahwa dirinya telah mengizinkan Central Intelligence Agency (CIA) untuk melakukan operasi rahasia di negara Amerika Selatan tersebut.
Kawasan operasi USSOUTHCOM mencakup daratan luas Amerika Latin di bagian selatan Meksiko, perairan di sekitar Amerika Tengah dan Selatan, serta Laut Karibia, menurut pernyataan Angkatan Laut AS.
Pewarta: Xinhua
Editor: Martha Herlinawati Simanjuntak
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.