Fenomena ini menunjukkan bahwa pendidikan yang tulus dan inklusif mampu menumbuhkan kepercayaan sosial yang otentik

Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq menyampaikan pendidikan memainkan peran penting dalam membangun kepercayaan antar individu di tengah kondisi yang terpolarisasi akibat keberagaman.

Ia mengatakan kesimpulan tersebut merupakan hasil penelitiannya bersama Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti tentang praktik pendidikan inklusif di wilayah mayoritas nonmuslim seperti Nusa Tenggara Timur, Papua, dan Kalimantan Barat.

“Fenomena ini menunjukkan bahwa pendidikan yang tulus dan inklusif mampu menumbuhkan kepercayaan sosial yang otentik,” kata Fajar di Jakarta Pusat pada Rabu.

Dalam konteks ini, lanjutnya, pendidikan menjadi wadah alami untuk membangun rasa saling percaya.

Baca juga: Pusdiklat APU PPT terus tingkatkan kualitas pendidikan dan pelatihan

Ia menambahkan, penelitian yang menghasilkan buku berjudul Kristen Muhammadiyah tersebut menemukan fakta bahwa sekolah-sekolah Muhammadiyah di daerah-daerah tersebut dapat diterima dengan baik oleh masyarakat setempat, bahkan mendidik anak-anak Katolik dan Protestan.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa arah pendidikan Indonesia kini diperkaya dengan pendekatan pembelajaran mendalam yang bukan sekadar kurikulum baru, melainkan upaya memuliakan manusia.

“Hakikat pendidikan adalah memanusiakan manusia. Di tengah tantangan digitalisasi dan kecerdasan buatan, kita perlu menegaskan kembali apa arti menjadi manusia,” imbuhnya.

Wamendikdasmen menambahkan pendidikan abad ke-21 harus menekankan soft skills seperti berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, komunikatif, dan empati yang termasuk nilai-nilai yang juga menjadi inti dari 8 Dimensi Profil Lulusan.

Baca juga: Anggota DPR: MBG menurunkan stunting, tingkatkan kualitas pendidikan

Karena itu, ia pun menyampaikan membangun kembali kepercayaan sosial di lingkungan pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah dan berbagai kelompok keagamaan.

“Pendidikan sejatinya adalah proses memanusiakan manusia. Dan inti dari kemanusiaan adalah kemampuan untuk mempercayai orang lain, menjauhkan prasangka, dan menghapus stigma negatif,” ujarnya.

Baca juga: IPTI-BHMS Swiss wujudkan pendidikan pariwisata berstandar global

Pewarta: Hana Dewi Kinarina Kaban
Editor: Sambas
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.