Wamena (ANTARA) - Tangis bayi berumur sepekan itu menggema di keheningan perbukitan Lembah Baliem, tepatnya di Kampung Holkima, Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, ketika pertama kali kali menghuni Panti Asuhan Izinmo Wamena yang dikelola oleh Yayasan Huseloma di Tanah Papua.

Bagi 118 bayi, balita, remaja, hingga pemuda, Panti Asuhan Izinmo Wamena bukan sekadar tempat tinggal, melainkan rumah berkat bagi mereka yang tak pernah tahu dari mana mereka berasal, siapa orang tua mereka dan siapa keluarga mereka.

Panti Asuhan ini telah ada sejak 1996 dan tetap setia merawat bayi dan anak-anak tidak mampu, hingga saat ini. Jumlah total anak-anak binaan, sejak berdiri, hingga saat ini, mencapai 318 anak, dimana 200 di antaranya telah mandiri dan berkeluarga, dengan berbagai profesi, mulai dari Polri, TNI, tenaga medis, ibu rumah tangga, hingga swasta.

Awal didirikan, Panti Asuhan Izinmo hanya berupa honai (rumah adat Papua) yang sederhana, belum berupa bangunan modern, seperti yang saat ini terlihat. Kini, bangunan itu sudah terlihat megah, dengan arsitektur gaya Eropa, menggunakan kombinasi batu bata dan dilengkapi cerobong asap, mengingat Wamena terkenal sebagai “kota kulkas” atau sangat dingin. Penghangat ruangan, dengan dilengkapi cerobong asap, sangat diperlukan karena daerah itu berada di ketinggian 1.800 meter di atas permukaan laut atau mdpl.

Editor: Masuki M. Astro
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.