Washington (ANTARA) - Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) akan melambat dari proyeksi sebelumnya yakni 1,9 persen pada kuartal keempat (Q4) 2025, namun lembaga itu tidak memiliki cukup data untuk menilainya akibat penutupan (shutdown) pemerintah federal, ungkap juru bicara IMF pada .
Kurangnya data ekonomi yang akurat akibat shutdown pemerintah federal selama 43 hari, yang merupakan rekor terlama, telah menyulitkan kemampuan IMF untuk menilai kondisi ekonomi AS, ujar Julie Kozack, juru bicara IMF, dalam sebuah konferensi pers, Kamis (13/11).
"Ekonomi AS telah terbukti tangguh dalam beberapa tahun terakhir. Namun, saat ini kami melihat hambatan mulai meningkat," tutur Kozack.
"Permintaan dalam negeri melandai, dan pertumbuhan lapangan kerja (juga) melambat. Perpaduan antara lambatnya arus masuk imigrasi, (penerapan) tarif, (dan) ketidakpastian kebijakan yang lebih luas telah menekan aktivitas (ekonomi)."
Kendati demikian, dampak ini kemungkinan akan berbalik pada kuartal pertama 2026, imbuhnya.
Menurut IMF, inflasi AS bergerak mendekati target 2 persen yang ditetapkan oleh Federal Reserve, namun penerapan tarif telah meningkatkan risiko kenaikan inflasi tersebut.
Kendati ekspektasi inflasi tetap stabil, harga yang lebih tinggi "menyebabkan kesulitan di sebagian segmen masyarakat," ujar Kozack.
Pewarta: Xinhua
Editor: Junaydi Suswanto
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.