Moskow (ANTARA) - Perjanjian Uni Eropa-Mercosur mengkhianati kepentingan petani, pekerja, dan konsumen Eropa, serta merusak lingkungan, menurut pernyataan serikat produsen pertanian Eropa, COPA-COGECA.

Mercosur adalah blok perdagangan regional Amerika Selatan yang beranggotakan Argentina, Brasil, Paraguay, Uruguay, dan Venezuela. Pada 2017, Venezuela diskors tanpa batas waktu.

"Kesepakatan ini tetap tidak dapat diterima, sebuah pengkhianatan terhadap petani, pekerja, dan konsumen, yang diperparah oleh prosedur demokrasi dan peradilan yang dipertanyakan," menurut pernyataan serikat tersebut pada Kamis (13/11).

"Yang kami butuhkan adalah kebijakan yang koheren yang mendukung kedaulatan dan keberlanjutan UE serta agar perdagangan menjadi transparan dan adil," tambahnya.

Para petani yakin perjanjian UE-Mercosur menciptakan risiko impor beras, unggas, daging sapi, gula, jagung, dan etanol bebas bea yang tidak sesuai, yang sebagian besar diproduksi dengan standar yang jauh di bawah standar UE, menurut pernyataan tersebut.

“Hal ini menimbulkan kekhawatiran serius tentang dumping lingkungan dan sosial, karena produsen Mercosur sering beroperasi tanpa pelindungan ketat yang sama terkait standar ketenagakerjaan, deforestasi, penggunaan pestisida, pengelolaan lahan berkelanjutan, dan emisi karbon—semuanya wajib dipatuhi oleh petani UE,” menurut pernyataan itu.

Mereka memberi contoh, lebih dari 30 zat aktif yang disetujui untuk digunakan pada tebu di Brasil telah dilarang penggunaannya pada bit gula di UE dan 52 persen zat yang diizinkan untuk digunakan pada jagung tidak ada di UE.

Serikat itu mencatat bahwa tekanan ekonomi dan penurunan harga bagi produsen UW sudah terasa, karena sepertiga impor unggas UE sudah berasal dari negara-negara Mercosur, dan volume daging sapi, gula, jagung, madu, dan etanol yang terus meningkat bersiap memasuki pasar UE.

Pada 3 September, Komisi Uni Eropa mengusulkan kepada dewan dan parlemen untuk menyetujui perjanjian dengan Mercosur dan Meksiko, meski ada penolakan dari beberapa negara dan organisasi industri.

Pada 2024, gelombang protes massal oleh para petani terhadap perjanjian itu melanda negara-negara UE. Mereka khawatir Eropa akan dibanjiri impor murah dari negara-negara dengan standar sanitasi dan lingkungan yang kurang ketat.

Para petani Eropa berpendapat bahwa konsekuensi dari kesepakatan dengan Mercosur dapat berupa penurunan penjualan lebih lanjut bagi produsen pertanian Eropa akibat "persaingan tidak sehat" oleh rekan-rekan mereka dari Amerika Selatan.

Krisis semakin parah setelah Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, meski ditentang beberapa negara UE yang dipimpin Prancis, merampungkan kesepakatan politik di Uruguay pada Desember 2024 untuk membentuk kawasan perdagangan bebas terbesar dengan lebih dari 700 juta konsumen di Eropa dan Amerika Selatan.

Sumber: Sputnik/RIA Novosti-OANA

Baca juga: Mendag dorong perundingan dagang RI-Mercosur segera dimulai

Baca juga: Indonesia-Brazil pimpin pertemuan ASEAN-Mercosur

Penerjemah: Cindy Frishanti Octavia
Editor: Arie Novarina
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.