Jakarta (ANTARA) - PT Etana Biotechnologies Indonesia (Etana) bersama CanSino Biologics Inc. secara resmi memulai Uji Klinik Fase I vaksin inhalasi Tuberkulosis (TB) di Indonesia.
Vaksin booster tuberkulosis melalui inhalasi ini merupakan vaksin berbasis adenovirus rekombinan tipe 5 manusia, dan menjadi vaksin penguat TB inovatif secara global yang ditujukan bagi populasi yang telah menerima vaksin Bacillus Calmette-Guerin (BCG).
“Melalui kolaborasi ini, kami berupaya menghadirkan generasi baru vaksin tuberkulosis yang dirancang untuk mencegah penyebaran penyakit tuberkulosis di Indonesia. Pelaksanaan uji klinis fase 1 ini merupakan langkah penting dalam pengembangan vaksin TB inovatif yang ke depannya akan diproduksi secara lokal," kata Presiden Direktur Etana, Nathan Tirtana dalam keterangan pers yang diterima, Jumat.
CEO CanSino Biologics Inc., Dr. Xuefeng Yu menambahkan sebagai negara berkembang dengan beban tuberkulosis yang tinggi, Indonesia menghadapi tantangan yang serupa dengan banyak negara lain, termasuk China.
Menyadari hal tersebut, CanSino Biologics Inc. berkomitmen untuk menghadirkan solusi inovatif bagi permasalahan kesehatan masyarakat global, salah satunya melalui pengembangan vaksin TBC.
Berdasarkan hasil penelitian pra-klinis, pendekatan vaksin dengan metode inhalasi dinilai memiliki potensi yang lebih baik dibandingkan vaksin dengan metode injeksi. Melalui kolaborasi dengan PT Etana Biotechnologies Indonesia, pengembangan vaksin TB inhalasi ini diharapkan menjadi langkah nyata menuju upaya pencegahan TBC yang lebih efektif dan berdampak luas.
Baca juga: Pemberian vaksin BCG bisa menangkal TB berat pada anak
“Tuberkulosis masih menjadi salah satu tantangan kesehatan masyarakat terbesar, terutama di negara-negara berkembang. Dari hasil penelitian kami, vaksin dengan metode inhalasi menunjukkan potensi perlindungan yang lebih kuat. Melalui kolaborasi dengan Etana, kami ingin mempercepat inovasi dan menghadirkan vaksin ini bagi mereka yang paling membutuhkan, menuju masa depan di mana TBC tidak lagi menjadi ancaman.” Kata Dr. Yu.
Uji klinis ini dipimpin oleh Prof. Dr. dr. Erlina Burhan, M.Sc., Sp.P(K), dengan pelaksanaan di dua rumah sakit, yaitu RS Islam Jakarta Cempaka Putih dan RSUP Persahabatan. Sebanyak 36 partisipan sehat berusia 18–49 tahun akan menjalani vaksinasi melalui inhalasi menggunakan nebulizer, metode inovatif yang menargetkan imunitas mukosal saluran pernapasan, pintu masuk utama infeksi TB.
Hingga saat ini, vaksin BCG merupakan satu-satunya vaksin yang tersedia untuk tuberkulosis. Walaupun memberikan perlindungan terhadap bentuk TB berat pada bayi dan anak usia dini, vaksin ini tidak efektif dalam melindungi orang dewasa maupun anak-anak dari TB paru.
Tuberkulosis masih menjadi salah satu tantangan kesehatan global terbesar. Delapan negara, termasuk Indonesia, menyumbang sekitar 68 persen dari total kasus TB di dunia. Tanpa inovasi dan langkah pencegahan baru, target eliminasi TB pada tahun 2030 akan sulit tercapai.
Melalui pelaksanaan uji klinis ini, Etana dan CanSino berkomitmen memperkuat inovasi, kolaborasi, serta kemandirian industri kesehatan Indonesia, mendukung percepatan eliminasi TB dan peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Uji klinis Fase I vaksin Tuberkulosis (TB) dengan inhalasi mendapat dukungan penuh dari Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D dan Wakil Menteri Kesehatan RI, dr. Benyamin Paulus Octavianus, Sp.P(K).
Baca juga: Pakar Unair nilai uji coba Vaksin TBC di Indonesia cukup aman
Baca juga: Ahli: Vaksin M72 tidak akan gantikan vaksin BCG
Baca juga: Ahli: Siapkan 4A guna sukseskan peran vaksin M72 dalam eradikasi TB
Pewarta: Fitra Ashari
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.