Saat jagung hanya dipanen, dicabut, lalu dijual sebagai komoditas mentah, nilai ekonomi yang hilang terlalu besar
Mataram (ANTARA) - Di banyak daerah agraris di Indonesia, panen raya selalu menjadi momen yang menyiratkan harapan. Ladang-ladang berubah warna, pasar mulai ramai, dan para petani bekerja lebih panjang dari biasanya demi menyelamatkan hasil panen.
Namun, kerap kali, melimpahnya produksi justru menjadi awal dari paradoks yang tidak mudah diurai. Ketika pasokan meningkat, harga komoditas pertanian sering tertekan, membuat petani berada pada posisi yang paling rentan dalam rantai ekonomi yang panjang.
Gambaran umum itu terlihat jelas di Nusa Tenggara Barat (NTB). Setiap musim panen tiba, lanskap jagung di daerah ini berubah menjadi hamparan kuning yang mengalir dari Lombok hingga Sumbawa.
Para petani memanen tongkol demi tongkol yang menjadi tumpuan ekonomi keluarga mereka. Namun di balik limpahan itu, ironi menahun terus berulang.
Saat produksi mencapai puncaknya, harga jagung justru merosot hingga di bawah harga pembelian pemerintah, membuat petani was-was setiap kali panen raya datang.
Dari musyawarah desa hingga rapat kebijakan di tingkat provinsi, satu pertanyaan terus muncul: Mengapa daerah produsen jagung sebesar NTB belum mampu meraih nilai tambah dari komoditas yang dihasilkannya sendiri? Mengapa ketika jagung melimpah, justru daerah lain yang menikmati manfaat lebih besar melalui industri pakan dan pengolahan?
Pertanyaan itu kembali mencuat setelah pemerintah daerah menegaskan perlunya pembangunan pabrik pakan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian lokal.
Sebuah gagasan yang bukan hanya relevan, tetapi semakin mendesak karena rantai ekonomi jagung menunjukkan ketimpangan yang terlalu nyata untuk terus dibiarkan.
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.