Denny JA nilai Frakfurt Book Fair akan alami perubahan besar

Denny JA nilai Frakfurt Book Fair akan alami perubahan besar

Denny JA memegang buku karyanya Sapu Tangan Fang Yin edisi bahasa Jerman di Stand Indonesia di pameran buku Frankfurt Book Fair di hari terakhir, Minggu (18/10). (istimewa)

Jakarta (ANTARA News) - Tokoh pegiat anti diskriminasi Indonesia Denny JA menilai "Frankfurt Book Fair" (FBF) selaku pameran buku terbesar dan tertua di dunia akan mengalami perubahan besar, karena industri buku akan berubah dari yang berbentuk cetak menjadi eBook, buku elektronik.

Denny JA mengatakan hal itu di hari terakhir Frankfurt Book Fair, Jerman, Minggu (18/10) kepada pimpinan ICG (Perhimpunan Komunitas Indonesia Jerman untuk kultur dan bisnis), R. Adriana, ketika mengunjungi stand Indonesia di hari terakhir tersebut.

Dalam keterangan tertulisnya diterima, Senin (19/10) Denny mengatakan, pameran di Franfurt Book Fair adalah salah satu yang terbesar (raksasa) di dunia. Namun, Denny mengibaratkan seperti raksasa dinousarus yang segera punah jika Frankfurt Book Fair tak mempersiapkan respon yang tepat menghadapi perubahan zaman.

"Melihat tradisi panjang Frankfur Book Fair yang sudah berusia 200 tahun, Denny percaya, respon yang tepat akan terjadi dan Frankfurt Book Fair akan ikut mengubah orientasinya," katanya.

Denny memberikan lima alasan yang mendasari analisisnya, pertama, trend prosentase penjualan eBook dibandingkan buku konvensional. Denny  mengutip data laman dugcampbel bahwa pada 2008, penjualan eBook di Amerika Serikat hanya di bawah 2 persen. Namun di tahun 2013 meningkat menjadi 30 persen. Hanya dalam waktu 5 tahun, penjualan buku eBook meningkat 1.500 persen.

"Trend yang terjadi di Amerika Serikat akan juga terjadi di belahan dunia lain karena bekerjanya arus perubahan yang sama," katanya.

Kedua, ujar Denny, harga eBook akan sangat jauh lebih murah karena tak memerlukan kertas dan tak memerlukan ongkos kirim. Akibatnya untuk membaca buku yang sama, pembeli hanya perlu mengeluarkan dana sampai 10 persen saja ketimbang ia membeli buku cetak plus ongkosnya. "Trend bisnis selalu akan memihak kepada harga yang lebih murah dan efisien," kata Denny.

Ketiga, lanjutnya, eBook dapat dibeli dengan cara yang jauh lebih cepat. Cukup dengan "Kindle Book" misalnya, detik itu dipesan, detik itu juga bisa dibaca oleh pembeli karena buku itu langsung terunduh secara elektronik. Berbeda dengan buku biasa yang membutuhkan waktu pengiriman.

Keempat, bentuk akhir buku dalam eBook bisa "dicustomized" oleh pembaca. Pembaca yang berbeda selera dapat mengubah eBook yang sama dengan hasil akhir yang berbeda. Misalnya, manusia lanjut usia yang membeli buku bisa membuat font buku lebih besar, agar lebih mudah ia membacanya.

Kelima, prosentase royalti bagi penulis juga akan lebih besar. Selama ini penulis mendapatkan royalti hanya berkisar 10-15 persen saja akibat besarnya prosentase yang diambil oleh  penerbit, distributor dan toko buku.

Denny menambahkan, eBook dapat memberikan penulis royalti sebesar 35 persen-65 persen, apalagi jika penulis itu menerbitkan bukunya sendiri. Karena tak memerlukan kertas, menerbitkan buku juga semakin murah dan semakin bisa dikerjakan oleh penulisnya sendiri. Praktis dari total penjualan buku, penulis hanya dipotong oleh biaya display penjualan eBooknya saja.

"Buku Sapu Tangan Fang Yin sudah dibuat dalam eBook untuk versi bahasa Inggris dan Jerman karena saya sudah membaca trend itu. Di bulan Juli 2015, bahkan dua versi bahasa buku Sapu Tangan Fang Yin itu tercatat sebagai best seller no1 di amazon.com, toko buku online terbesar dunia," demikian Denny JA.

Pewarta: Ruslan Burhani
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2015

LSI Denny JA temukan golput di pileg lebih besar dibandingkan pilpres

Komentar