Banjarmasin (ANTARA) - Kementerian Lingkungan Hidup (LH) menjelaskan penanganan sampah dengan metode penerapan teknologi Waste to Energy (WTE) yang dinilai berpotensi menjadi salah satu terobosan dalam penanganan sampah kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan (Pemprov Kalsel).
Pelaksana Tugas (Plt) Deputi Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Berbahaya dan Beracun (PSLB3) Kementerian LH Hanifah Dwi Nirwana di Jakarta, Senin, menerima kunjungan kerja Biro Administrasi Pimpinan (Adpim) dan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Kalsel terkait prospek penerapan WTE di provinsi itu.
“Kalsel memiliki peluang mengembangkan fasilitas WTE yang tidak hanya mampu mengurangi timbunan sampah, tetapi juga dapat menyumbang energi listrik terbarukan bagi daerah,” ujarnya.
Ia menekankan penerapan teknologi tersebut membutuhkan volume sampah yang besar untuk beroperasi efisien.
“Potensinya ada, tapi Kalsel masih jauh lagi menjalankan teknologi ini. Idealnya 1.000-1.500 ton sampah per hari agar WTE ini dapat berkelanjutan,” tutur Hanifah.
Dia menjelaskan insinerasi modern menjadi teknologi utama dalam PLTSa di berbagai negara maju yang mampu mengurangi volume sampah hingga 70–90 persen dan telah memenuhi parameter keamanan lingkungan sesuai standar berkelanjutan dalam peraturan presiden.
Baca juga: KLH gelar aksi kolaborasi dalam Gerakan Nasional Aksi Bersih Sampah
Menurut dia, Kalsel memerlukan waktu serta persiapan matang untuk mengadopsi teknologi tersebut karena tantangan terbesar berada pada ketercukupan volume sampah harian.
Menanggapi hal itu, Kepala DLH Provinsi Kalsel Rahmat Prapto Udoyo mengakui daerahnya masih berada pada tahap awal pengembangan WTE.
Selain belum terpenuhi kebutuhan volume sampah, ia menyebutkan keterbatasan keuangan daerah sebagai tantangan utama yang perlu diperhitungkan.
Saat ini, kata dia, Pemprov Kalsel memprioritaskan penanganan sampah dari hulu dengan mendorong pemilahan sampah mulai dari tingkat rumah tangga untuk mengurangi jumlah residu atau sampah akhir yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
“Fokus kami di hulu agar beban sampah yang masuk ke TPA bisa ditekan. Ini juga kami dorong melalui penguatan TPS-3R dan TPST,” ungkapnya.
Ia menyampaikan bahwa pendekatan ini selaras dengan strategi pengelolaan sampah berkelanjutan, termasuk pengembangan infrastruktur pengolahan sampah berbasis reduce, reuse, recycle, guna memperkuat sistem pengelolaan di daerah.
“Kunjungan ini menjadi momentum bagi Pemprov Kalsel untuk memperkuat koordinasi dan mencari alternatif teknologi yang paling memungkinkan diterapkan dalam upaya jangka panjang mengatasi persoalan sampah,” ujar Rahmat.
Baca juga: Indonesia MoU dengan Inggris kembangkan mitigasi perubahan iklim
Pewarta: Tumpal Andani Aritonang/Latif Thohir
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.