Di setiap lokasi, fasilitator lokal menjadi tulang punggung proses belajar, menjaga disiplin dan menemani anak-anak sepanjang kegiatan
Model ini dicoba ditawarkan di berbagai desa dekat kota, tetapi kurang diminati karena masyarakat masih berharap kehadiran guru langsung. Kendala biaya menjadi penghalang pendirian kelas tatap muka berkelanjutan.
Hingga akhirnya, perjalanan RBeBe menemukan titik takdirnya ketika berlabuh di Nabire, Papua, di tempat Hemus mengajar. Di wilayah yang sangat membutuhkan akses belajar tambahan tapi kekurangan tenaga pendidik dan pendekatan mandiri berbasis teknologi justru menemukan kecocokannya.
RBLK dan RBeBe saling melengkapi dimana satu menyediakan ruang dan sentuhan manusia yang hangat, yang lain menyediakan materi pendidikan luas mulai dari literasi dasar hingga keterampilan musik, menggambar, bahasa Inggris, literasi digital, literasi keuangan, hingga pengetahuan kesehatan.
Kini, setiap sore, di belakang bangunan sederhana itu, dua kekuatan bertemu, keikhlasan seorang guru yang tak mengenal lelah, dan teknologi yang memungkinkan ilmu menyebar melampaui batas ruang.
Kolaborasi antara RBLK dan RBeBe menjadi gambaran nyata bahwa gotong royong pendidikan dapat terwujud meski jarak membentang jauh dari Jawa Barat ke Papua.
Keduanya menunjukkan bahwa dengan pendampingan lokal dan akses pendidikan digital, anak-anak di wilayah terpencil dapat memiliki harapan, kesempatan, dan mimpi yang sama seperti anak-anak di kota besar.
Perubahan besar memang sering dimulai dari sesuatu yang kecil: sebuah rumah baca sederhana, seorang guru yang setia, dan sebuah program belajar yang mencoba membuka pintu akses seluas-luasnya.
Lilin Kecil, nama yang diambil dari rumah baca Hemus, tidak lagi menyala sendirian. Ia kini ditemani oleh RBeBe dengan visi Merdeka Maju Berdaya, membangun generasi yang merdeka dari keterbatasan, maju dalam kualitas, dan berdaya untuk memberi manfaat bagi lingkungannya.
Dari sebuah pemukiman di Nabire, cahaya itu mulai menguat. Lilin kecil itu perlahan menjelma menjadi sinar yang berpotensi menyinari banyak penjuru Nusantara dari tempat yang selama ini dianggap paling jauh, tapi justru menyimpan cahaya harapan paling kuat.
Baca juga: Satgas Yonif 511/DY perkuat pendidikan agama anak di pedalaman Papua
*) Penulis adalah Praktisi Pendidikan, Trainer/Educator di Yamjaya, dan Pengembang Metode Edukasi Praktis berbasis Psikologi pada Rumah Belajar Bersama (Rbebe).
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.